Pemerintah Terkesan Biarkan Sekolah Jual LKS, Kepsek SDN Karapyak Diduga Bohongi Publik

2013-07-22 20:06:56

Sumedang/ Disdik, Indofakta Online –

Sangat disayangkan jika kurang lebih ribuan Kepala Sekolah dan guru  tingkat SD, SLTP dan SLTA, khususnya Negeri, yang ada di Lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Sumedang, akan menentang Larangan Kepala Dinas Pendidikan Herman Suryatman dan Bupati Sumedang, H. Endang Sukandar, terkait penjualan buku LKS dan pungutan disekolah.

Memang secara tertuli dari Kadisdik maupun dari Bupati Endang Sukandar, belum diterbitkan Larangan Jual buku LKS tersebut. Namun Bupati Sumedang, H. Endang Sukandar, dari 9 Programnya, diantaranya menggratiskan biaya pendidikan mulai dari tingkat Sekolah dasar dan hingga menengah atas.

Namun menurut orang tua murid janji HES tersebut hanya sebatas wacana, dan dianggap tidak “Sakti”. Janji HES kepada masyarakat Sumedang, tidak terbukti sekolah tetap menjual LKS. “Mana buktinya bahwa pendidikan gratis. Tahun ajaran masih baru dimulai, tapi pihak oknum kepala sekolah dan oknum guru tidak merasa, takut dengan ucapan Bupati Endang,” kata salah satu orang tua siswa yang namanya tidak mau ditulis.

Bupati Sumedang, H. Endang Sukandar, ketika dikonfirmasi Indofakta Online baru-baru ini, mengatakan LKS tidak akan dijual di sekolah. “Kalau sekolah membutuhkan LKS maka LKS tersebut akan dibuat oleh guru itu sendiri dan bukan harus dibeli dari produk luar. Kalau masih ada sekolah yag melakukan penjualan buku LKS yang bukan hasil dari evaluasi PBM, maka akan diberikan sanksi.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Sumedang, Herman Suryatman, mengatakan, untuk ajaran baru tidak ada lagi pihak sekolah untuk menjual buku LKS kepada orang tua siswa apapun alasannya. Dan bila hal itu terjadi akan kami kenakan sanksi berupa Surat peringatan (SP). Karena LKS merupakan Lembaran Kerja Siswa yang harus dibuat oleh gurunya sendiri dan tidak mungkin untuk di tiadakan karena bagian dari proses pembelajaran disekolah, uncapnya, kepada Indofakta Online, Kamis (27/6).

Diduga demi keuntungan yang menggiurkan, pihak sekolah akan tetap menjual LKS, karena diduga sekolah dengan pihak pengusaha buku LKS sudah melakukan MoU. Akibat dari dugaan MoU tersebut, pihak sekolah akan tetap tidak mengindahkan larangan atau peringatan dari Kadisdik baik Bupati HES, sekalipun.

Namun bagi orang tua murid jika LKS dibutuhkan di sekolah maka LKS tersebut akan dibuat oleh guru itu sendiri. Namun yang terjadi di Lingkungan Dinas Pendidikan Kab. Sumedang, LKS datang dari Produk luar, dengan harga yang tinggi.

Ironisnya, buku LKS tersebut harus dibeli di sekolah dan tidak ditemukan di toko buku terbesar di Kab. Sumedang dan harga per LKS tidak transparan kepada orang tua siswa.

Maka layak jika Kadisdik Herman Suryatman dalam hal ini orang nomor satu di lingkungan Disdik Kab. Sumedang, memberi sanksi kepada setiap sekolah yang jual buku LKS.

Dan jika memang Kepala Dinas Pendidikan tidak mampu, memberi sanksi kepada setiap oknum kepala sekolah dan guru, layak Bupati mengganti Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Herman Suryatman, karena dianggap gagal dalam memimpin dilingkungan Dinas Pendidikan.

Dari pantauan Indofakta Online, di SDN Karapyak Kel. Situ Kec. Sumedang Utara Kab. Sumedang, masih menjual buku LKS, bahkan terkesan penjualan LKS mengatas namakan kesepakatan orang tua. Pernyataan kepala sekolah tersebut dibantah orang tua siswa.

“Hingga saat ini tidak pernah pihak sekolah mengundang orang tua siswa untuk musyawarah tentang buku LKS, bahkan kebanyakan orang tua menolak penjualan LKS di SDN Karapya. Memang tidak ada unsur paksaan dari sekolah, tapi jika guru terus menerus mempertanyakan murid apakah sudah punya LKS atau belum, dengan sendirinya pertanyaan itu akan menjadi sebuah paksaan,” kata Joel, salah satu orang tua murid.

Kepala Sekolah SDN Karapyak, Hj. Eis Juariah S.Ag., dikantornya, kepada Indofakta Online. “Penjualan buku LKS ini, ke inginan dari orang tua siswa dan juga tidak ada unsur paksaan, itupun bagi yang mau kalau tidak mau beli ya tidak memaksa. Dan untuk pembeliannyapun melalui Koperasi sekolah, untuk satu Buku LKS di kenakan Rp.9.500,” ucapnya.

*Kuya/Jl*

 

 

 

 

 

 

Berita Sebelumnya

Berita Selanjutnya



Share:     Share on Google+
Idul Fitri