Ironi Pahlawan Devisa

2012-12-14 20:35:38

Ironi Pahlawan Devisa
-------------------------------



Adalah dia sosok perkasa
yang disebut juga pahlawan devisa
tinggalkan keluarga demi kehidupan yang lebih baik pula
mengais rejeki di negeri penuh harapan
tanpa perduli akan rintangan yang menghadang



kerja rodi tujuh bulan tanpa imbalan
selalu siaga dua puluh empat jam
hanya perubahan nasib yang diharapkan
meski diri harus menerima beragam cercaan



oh, perempuan migran
nasibmu dijadikan taruhan
perlindungan yang kau harapkan
namun kesewenangan yang kau dapatkan
beragam peraturan yang katanya demi kebaikan 
KTKLN pun menjadi momok yang menyeramkan 
kontrak mandiri yang menjadi tuntutan tak pernah dikabulkan 



KJRI : Konsulat Jenderal Republik Indonesia 
dengar dan lihat teriakan para anak negeri
yang tak perduli panas dan hujan
diantara gelegar petir menyambar
hanya menuntut perlindungan dan keadilan 



Choihung, Hongkong 07 September 2012




             Pohon Rindang
             ---------------------



            Umpama aku adalah pohon tua yang rindang. Daunnya rimbun. Bersusun-susun dan bertrap-trap. Begitu banyak daun tersusun. Sanggup melindungi kelopak daun dari kutu, semut kadang juga buliran embun. Tapi kini beberapa daun terkulai, lalu jatuh rebah. Pohon rindangku tak mampu lagi mencengkeram ke bumi erat-erat. Akarnya yang kuat tak sanggup lagi terlindung dalam himpitan daun dan cengkeraman cacing tanah. 




Choihung, Hongkong 11 September 2012


      Asaku
      ---------
 
 
 
Saat biasa rasa itu hadir 
maka bayang-bayang itu juga bermain
tiada sapa ceria
suka dan nestapa yang berkabung ranum
ada terselip rasa yang tiba-tiba muncul dalam asa




entah apa yang sedang terlamunkan
apa ada rindu, resah atau gelisah
biar nada yang mengalun berjalan teratur
menjadikan indah rasa dijiwa
perlahan kembali hadir
meredam segala dendam yang merasuk
yang sempat mengguncang jiwa





yang hampir meruntuhkan 
pertahanan di dasar sana
untuk apa ada yang kembali 
bila membuat lara





Hongkong, April 2012






                 Sebuah Elegi
                  -----------------



Terduduk dalam sepi
menekuri suatu elegi yang terjadi
engkau hadir bersama sapa dan tawa
pesonamu menembus di jiwa saat kau ramah dalam canda
kala rembulan tersenyum dengki 
aku tersedan





begitu mudahnya hati terhanyut dalam gelombang yang berbuih
ada yang terselip haru
kala disini kita pertama beradu
kau ucap kata lugu
selugu dan semurni harap dan idamanku






kau sambut jernihnya titik embun
sehangat melati yang berkembang 
indah dan memikat
ada yang mengalir bahagia
kala kau ingin dan sudi jalin cerita




Hongkong,29 April 2012





                 Asmara Biru
                 -----------------


Asmara biru
kau hadir dalam dekapan benakku
kau hadir mengisi sebuah kesunyian
kau tentramkan hatiku dalam naungan kasihmu



dinginnya angin malam semakin membuatku gelisah 
membuat hati berdebar dalam seribu tanya
menyebut namamu seiring lajunya waktu 
desah nafas bersama galaunya rindu




selalu bersamamu itu inginku
berada di sampingmu tak terbatas waktu 
meski kini ada jarak membentang
yang memisahkan dua raga kita
namun itu bukanlah sebagai penghalang 
yakinlah akan satu
slalu ada rindu yang nyata untukmu 




Hongkong, 2012

Tentang Penulis : Hanna Yohana, pekerja migran di Hong Kong, aktivis, penulis juga kontributor media cetak dan online. Tulisannya yang berupa puisi, opini dan artikel tersebar di berbagai media Indonesia dan Hong Kong. Puisinya tergabung dibeberapa antologi bersama penyair di Indonesia serta sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal.

Berita Sebelumnya

Berita Selanjutnya



Share:     Share on Google+
KPK