Pencarian Berita


Gerakan Melawan Stunting

Gerakan Melawan Stunting

Adikarya Parlemen

Oleh : H.Syahrir.SE.,M.I.P

Stunting atau tinggi badan rendah dibandingkan usia adalah masalah pertumbuhan yang disebabkan oleh ketidakcukupan asupan nutrisi jangka panjang ditambah dengan kasus penyakit yang sering terjadi, terutama selama 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) (de Onis & Branca, 2016). 1000 HPK adalah masa awal kehidupan yang dimulai saat di dalam kandungan sampai 2 tahun pertama setelah kelahiran. Masa ini merupakan periode emas “Golden Period” seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal (Achadi, 2014). Apabila terjadi stunting pada anak, maka hal ini akan berdampak jangka panjang yang signifikan pada masa dewasa dalam bentuk penurunan perkembangan kognitif dan fisik, risiko penyakit metabolik, dan berkurangnya produktivitas kerja yang berpotensi membahayakan pertumbuhan ekonomi masa depan di tingkat nasional (Reinhardt & Fanzo, 2014). Secara global, stunting mempengaruhi 161 juta anak di bawah usia lima tahun pada tahun 2013 yang sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan menengah ke bawah (de Onis & Branca, 2016). 

Di tengah kemajuan regional Asia yang mengesankan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara ternyata masih tertinggal. Hal ini menempatkan Indonesia pada tingkat stunting yang sama dengan Kamboja, negara tetangga dengan kurang dari setengah pendapatan Indonesia per kapita, dan bahkan lebih buruk dibandingkan dengan tingkat negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih sebanding seperti Filipina dan Vietnam (Chaparro, Oot, & Sethuraman, 2014). Pada tahap ini, akan sulit bagi Indonesia untuk mencapai tujuan 2012 World Health Assembly untuk mengurangi stunting hingga 40% pada tahun 2025 (de Onis et al., 2013).

Selain itu, prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi terjadi pada rumah tangga miskin (Rachmi, Agho, Li, & Baur, 2016; De Silva & Sumarto, 2018; Bank Dunia, 2017) sejalan dengan hasil studi terbaru di Vietnam, Zambia, dan Bangladesh menemukan bahwa kesenjangan kaya-miskin dalam prevalensi stunting telah meningkat (Kien et al., 2016; Huda, Hayes, & Dibley, 2017). Hubungan stunting dengan standar hidup dapat dijelaskan oleh beberapa faktor, termasuk kekurangan makanan (kualitas dan kuantitas), sanitasi yang buruk, tidak tersedianya air bersih, sulitnya akses ke perawatan kesehatan dan perilaku terkait kesehatan lainnya (Torlesse et al., 2016). 

Komitmen Indonesia untuk mengurangi stunting dibuktikan dengan beragamnya intervensi “gizi spesifik” dan “gizi sensitif”. Intervensi gizi spesifik tersedia untuk mengatasi kekurangan gizi di setiap titik dalam siklus hidup yang dimulai dengan suplementasi folat dan kalsium, serta pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil yang kekurangan gizi, promosi dan konseling menyusui untuk ibu menyusui, pemantauan pertumbuhan, suplementasi vitamin A, iodisasi, pemberian makanan tambahan, fortifikasi dan suplemen terapi seng untuk manajemen diare dan pencegahan cacingan untuk anak-anak usia nol hingga lima tahun, berlanjut dengan imunisasi dan program kesehatan sekolah, pemberian makanan tambahan dan promosi makanan jalanan yang sehat untuk anak usia sekolah. Akhirnya, layanan gizi tambahan dan konseling kesehatan reproduksi, bersama dengan suplemen zat besi tersedia untuk remaja dan orang lanjut usia (Trihono et al. 2015).

Indonesia memiliki sejumlah program sensitif gizi di berbagai sektor yang sedang dalam proses peningkatan yang mulai diujicobakan pada tahun 2007 hingga 2014. Misalnya, di sektor perlindungan sosial, pada PNPM Generasi (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), dan Program Bantuan Tunai Bersyarat, Program Keluarga Harapan (PKH) Prestasi, menargetkan anak-anak dan perempuan yang paling rentan (Olken, Onishi, & Wong, 2014). Upaya penting lainnya termasuk penerapan Jamkesmas, asuransi kesehatan yang dibiayai pemerintah pusat untuk masyarakat miskin dan beberapa program pemerintah daerah yang disebut Jamkesda (Harimurti, Pambudi, Pigazzini, & Tandon, 2013). Selain itu, skema khusus untuk perawatan kesehatan ibu bersalin yang disebut Jampersal diperkenalkan, tetapi hanya untuk periode singkat antara 2011 dan 2013 (Achadi, Achadi, Pambudi, & Marzoeki, 2014). Selanjutnya, semua skema tersebut diintegrasikan ke dalam satu program asuransi kesehatan nasional bernama Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014 bertujuan untuk memperluas cakupan asuransi kesehatan kepada masyarakat miskin dan hampir miskin, wiraswasta, serta mereka yang bekerja di sektor informal, akibatnya, memungkinkan akses yang lebih baik ke layanan kesehatan (Mboi, 2015). 

Efektivitas dan keberhasilan akhir dari pendekatan multi-sektoral untuk mengurangi stunting tergantung pada memiliki pandangan yang lebih holistik tentang ketidaksetaraan dan kesenjangan dalam akses ke tingkat yang memadai dari faktor-faktor penentu yang mendasari 3 nutrisi: perawatan, kesehatan, lingkungan, dan keamanan makanan. Saling ketergantungan antara faktor-faktor penentu yang mendasari nutrisi biasanya di luar ruang lingkup atau kendali setiap sektor tertentu. Integrasi pertimbangan gizi dalam sektor pertanian, misalnya, tidak mungkin mempertimbangkan fakta bahwa layanan dan fasilitas air, sanitasi dan kebersihan yang buruk dan tidak memadai di beberapa komunitas. Sebagai konsekuensinya, dampak dari intervensi yang sensitif terhadap nutrisi pada hasil nutrisi utama dapat sangat terhambat dengan tidak adanya fasilitas air, sanitasi dan hygiene yang memadai. Di sisi lain, dampak dari intervensi pertanian sensitif nutrisi yang sama dapat ditingkatkan secara signifikan jika harus disertai dengan perbaikan simultan dalam fasilitas air dan sanitasi di komunitas yang sama. Dengan demikian, pendekatan yang lebih holistik untuk intervensi sensitif gizi cenderung lebih mampu mengatasi penentu utama yang mendasari nutrisi secara efektif, serta memperkuat dampak intervensi spesifik gizi. 

Selain faktor pendidikan orang tua, terdapat delapan hal yang diidentifikasi terkait dengan faktor ibu, yaitu: gizi buruk selama prakonsepsi, kehamilan, dan menyusui; perawakan ibu pendek; infeksi; kehamilan remaja; kesehatan mental; pembatasan pertumbuhan intrauterin (IUGR) dan kelahiran prematur; jarak kelahiran pendek; dan hipertensi. Dari jumlah tersebut, gizi buruk selama prakonsepsi, kehamilan, dan menyusui; perawakan ibu pendek; IUGR dan kelahiran prematur; dan kehamilan remaja telah terbukti berhubungan dengan stunting anak di Indonesia (Beal et al., 2017). 

Proporsi balita stunting lebih banyak ditemukan pada balita dengan riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap dibandingkan balita dengan riwayat imunisasi dasar yang lengkap. Pada penelitian ini diketahui bahwa anak yang mendapatkan ASI eksklusif, mempunyai status gizi yang lebih baik di bandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Ketidakaktifan partisipasi keluarga dalam Bina Keluarga Balita (BKB) mempegaruhi kepada pengetahuan dan kesehatan anak sehingga masih ada balita yang mengalami gizi kurang dan gizi lebih serta panjang badan atau tinggi badan yang pendek ataupun sangat pendek. Hal ini diperkuat oleh Assefa (2013), pengetahuan ibu yang rendah merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan anak mengalami stunting. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ibu memiliki pengetahuan dan tindakan yang baik dalam pencegahan stunting sehingga hal ini menyebabkan bayi memiliki status gizi yang baik pula. 

Program yang telah dilakukan dalam ketahanan keluarga khususnya program Bina Keluarga Balita yaitu melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang program BKB dengan terintegrasi dalam kegiatan Posyandu. Penyuluhan dilakukan kepada kelompok-kelompok BKB di masyarakat yang di dalamnya meliputi pendataan, pembinaan materi-materi (8 fungsi keluarga, 7 aspek perkembangan bayi dll.) 4 yang akan disampaikan ke kelompok BKB, pemberian fasilitas kegiatan BKB seperti Kartu Kembang Anak (KKA), seragam kader dan Alat Permainan Edukatif (APE). 

Salah satu program dalam pembangunan ketahanan keluarga adalah program bina keluarga balita (BKB). Program bina keluarga balita merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan orang tua serta anggota keluarga lainnya dalam mengasuh dan membina tumbuh kembang balita melalui rangsangan fisik, kecerdasan, emosional, maupun sosial serta spiritual melalui interaksi efektif antara orang tua dan anak. Gerakan BKB ini merupakan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat untuk memelihara kesehatan pada anak, meningkatkan tumbuh kembang anak, deteksi dini masalah kesehatan, pencegahan kecacatan, dan menyiapkan anak balita untuk mampu berinteraksi dengan anak lain.

Rekomendasi 

1) Pembangunan system terintegratif Secara kualitatif, program Ketahanan Keluarga adalah suatu program yang idea pada rancangan tingkat nasional. Namun dalam level implementasi tidak dilakukan sesuai rancangan. Kesenjangan pada dua level ini, bisa dijembatani dengan beberapa hal berikut: a) Sistem fisik dan substansi perlu strukturisasi sampai level keluarga dan individu; b) Perlu supervisi dalam proses implementasi sistem tersebut, termasuk didalamnya koordinasi dan pembinaan, baik secara internal maupun eksternal. 

2) Kaderisasi Kader memiliki peran yang sangat vital dalam kegiatan program BKBkarena mereka yang berhubungan langsung dengan warga di lapangan dan kader merupakan ujung tombak pelaksana program kesehatan di masyarakat yang merupakan perpanjangan tangan dari petugas kesehatan yang harus dibina secara berkesinambungan. Perlu peningkatan pengetahuan kader melalui pelbagai pelatihan maupun pembinaan yang tidak hanya pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak melainkan juga bagaimana cara penyampaian informasi kepada keluarga balita yang efektif. Seleksi kader mempertimbangkan komitmen dan motivasi untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya setelah tercipta komitmen dan motivasi dipertimbangkan penghargaan yang lebih bagi kader berupa intensif yang lebih layak dapat menjadi pemicu kader akan lebih giat bekerja dengan baik. Perlu adanya regenerasi kader, dan pertemuan rutin seluruh kader tiap bulannya mengenai hambatan di lapangan dan solusi yang tepat untuk mengatasinya. 

3) Kerjasama lintas sektor Kerjasama sektoral dipertahankan dan diperbaiki untuk meningkatkan pertumbuhan dan 5 perkembangan pada anak. Kerjasama lintas sektoral yang akan diselenggarakan Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi, dan Kemendagri yaitu dengan meningkatkan ketahanan pangan dan gizi melalui Program Ketahanan Pangan dan Gizi. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa: a) Menjamin akses pangan yang memenuhi kebutuhan gizi terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak; b) Menjamin pemanfaatan optimal pangan yang tersedia bagi semua golongan penduduk; c) Memberi perhatian pada petani kecil, nelayan, dan kesetaraan gender; d) Pemberdayaan Ekonomi Mikro bagi Keluarga dengan Bumil KEK (Kurang Energi Protein); e) Peningkatan Layanan KB. 

Selain 3 rekomendasi di atas, diperlukan pula adanya kajian lebih lanjut tentang model intervensi melalui pembangunan Ketahanan Keluarga dalam pencegahan stunting dengan memprtimbangkan struktur sosial, budaya dan spiritual sesuai dengan kondisi di masyarakat.