18 Jun, 2026

Donald Trump Bela Pencairan Aset Iran di G7, Picu Sorotan Kepercayaan Dolar AS

Indofakta.com, 2026-06-18 12:33:18 WIB

Bagikan:

PRANCIS -- Di tengah forum diplomasi yang seharusnya penuh kehati-hatian, sebuah pernyataan dari Donald Trump justru menggeser arah percakapan dunia ke isu yang jauh lebih sensitif: uang Iran yang dibekukan Amerika Serikat.

Baca juga: Trump Umumkan Damai dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali Setelah Krisis Berbulan-bulan

Masalah ini kembali mencuat saat KTT G7 di Prancis berlangsung.

Baca juga: UEA Diduga Bayar Rp355 Triliun ke Iran Demi Hentikan Serangan, Timur Tengah Masuki Babak Baru Pascaperang

Kamis, 18 Juni 2026, di sela pertemuan para pemimpin ekonomi dunia tersebut, Donald Trump berbicara kepada media dan membela keputusannya terkait pencairan aset Iran yang sebelumnya dibekukan.

Baca juga: Pilot Air Canada Terbang 17 Tahun Tanpa Lisensi yang Tepat, Terungkap Setelah Raup Gaji Rp 35 Miliar

Dilansir dari Anadolu, Trump menyebut bahwa uang tersebut bukan milik Amerika Serikat, melainkan milik Iran yang hanya sempat dibekukan pada periode tertentu dalam hubungan kedua negara.

Baca juga: El Niño Resmi Dimulai, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem dan Potensi Rekor Suhu Baru

“Itu bukan uang kami, itu uang mereka, dan kami membekukannya pada titik waktu tertentu,” kata Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (18/6/2026).

Ia juga menegaskan bahwa secara prinsip, menahan dana negara lain secara permanen dapat merusak kepercayaan global terhadap sistem keuangan internasional, terutama dolar AS.

“Saya rasa kami harus mengembalikannya, jika kami tidak mengembalikannya, tidak akan ada yang mau berinvestasi dalam dolar lagi,” lanjut Trump dalam pernyataannya di sela KTT G7 tersebut.

Dalam penjelasannya, Trump bahkan mengakui bahwa secara politik menahan aset tersebut mungkin terlihat menguntungkan. Namun menurutnya, ada risiko jangka panjang yang lebih besar terhadap kredibilitas sistem keuangan Amerika Serikat.

“Saya memikirkannya. Bagaimana jika kami menyimpan uang mereka? Apa gunanya kami mengembalikannya kepada mereka?” ujar Trump.

Namun ia menambahkan bahwa banyak negara akan kehilangan kepercayaan jika aset mereka bisa dengan mudah ditahan tanpa kepastian.

“Jika Anda melakukan itu, Anda sebenarnya tidak memiliki sistem,” ucapnya lagi.

Di sisi lain, dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru yang lebih kompleks.

Menurut laporan yang dikutip dari Anadolu, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut telah secara virtual menandatangani nota kesepahaman atau MoU 14 poin.

Kesepakatan itu disebut mencakup upaya mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, serta membuka jalur negosiasi selama 60 hari terkait sanksi dan program nuklir Iran.

MoU tersebut juga dikabarkan akan diikuti oleh upacara penandatanganan resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026).

Dalam dokumen yang sama, Amerika Serikat bersama mitra regional disebut akan menyiapkan rencana rekonstruksi ekonomi Iran senilai 300 miliar dolar AS.

Jika dikonversi ke rupiah dengan asumsi kurs sekitar Rp.16.000 (Enam Belas Ribu Rupiah) per dolar AS, maka nilai tersebut setara dengan sekitar Rp.4.800.000.000.000.000 (Empat Kuadriliun Delapan Ratus Triliun Rupiah).

Namun dana tersebut tidak diberikan tanpa syarat. Trump menegaskan bahwa investasi hanya akan terjadi jika Iran memenuhi kriteria tertentu dalam kesepakatan.

“Kami tidak akan memberikan uang. Hanya jika mereka melakukan hal yang benar,” kata Trump, dikutip dari laporan yang sama.

Ia juga menyebut bahwa dana tersebut akan bergantung pada keterbukaan investasi dan perilaku Iran dalam proses negosiasi.

Di sisi lain, MoU 14 poin tersebut juga memuat komitmen Amerika Serikat untuk mengakhiri berbagai bentuk sanksi terhadap Iran.

Termasuk di dalamnya sanksi unilateral, resolusi Dewan Keamanan PBB, serta kebijakan yang dikeluarkan melalui Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari proses bertahap yang masih akan dinegosiasikan sebelum kesepakatan final tercapai.

Sementara itu, isu pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi bagian penting dari pembahasan. Jalur strategis energi dunia itu selama bertahun-tahun menjadi titik sensitif dalam hubungan Iran dan negara-negara Barat.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan teknis yang rinci mengenai bagaimana implementasi kesepakatan tersebut akan dijalankan di lapangan.

Beberapa poin dalam MoU tersebut juga masih menunggu tahap finalisasi, termasuk mekanisme pengawasan dan jadwal pelaksanaan penghapusan sanksi.

• Aset Iran yang dibekukan AS menjadi pusat perdebatan diplomatik global
• Trump mengaitkan kebijakan ini dengan stabilitas dolar AS
• Rencana rekonstruksi Iran disebut mencapai 300 miliar dolar AS
• Kesepakatan MoU 14 poin masih dalam tahap negosiasi lanjutan
• Selat Hormuz kembali menjadi titik strategis dalam diplomasi energi dunia

Di tengah seluruh pernyataan dan negosiasi itu, satu hal yang tetap mengemuka adalah pertanyaan lama yang belum sepenuhnya terjawab: sejauh mana uang dapat menjadi alat kepercayaan dalam sistem politik global yang terus berubah.

Dan ketika aset negara berubah menjadi bagian dari perhitungan diplomasi, batas antara ekonomi dan kekuasaan kembali menjadi kabur, meninggalkan ruang tafsir yang belum selesai hingga hari ini.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online