23 Jun, 2026

Ebola dan Hantavirus Kembali Jadi Sorotan, Dua Virus Mematikan yang Mengingatkan Ancaman Penyakit Menular

Indofakta.com, 2026-06-23 13:20:54 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Dua virus berbahaya kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah muncul peringatan baru dari sejumlah lembaga medis internasional.

Baca juga: Menkes Uji Kadar Gula Es Teh, Es Kopi Susu, dan Es Cendol Pinggir Jalan, Fakta Mengejutkan dari Hasil Laboratorium SIG Bogor 2026

Hantavirus yang sering dikaitkan dengan hewan pengerat, serta Ebola yang dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan di dunia, kembali disorot karena potensi penyebarannya yang cepat dan dampaknya yang serius bagi tubuh manusia.

Baca juga: Gen Penyebab Morning Sickness Parah Terungkap, Studi USC Temukan 6 Gen Baru HG

Senin, 22 Juni 2026, informasi ini kembali ramai dibahas setelah dilaporkan dalam Canadian Medical Association Journal (CMAJ) dan dirangkum oleh berbagai media kesehatan internasional.

Baca juga: Kopi dan Teh Bisa Turunkan Risiko Demensia Hingga 20 Persen, Studi JAMA Ungkap Temuan Baru

Meski berbeda jenis, kedua penyakit ini memiliki kesamaan pada gejala awal yang sering menyerupai penyakit ringan, namun dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa dalam waktu singkat.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Dua Subtipe Autisme yang Berbeda di Otak, Buka Jalan Menuju Terapi yang Lebih Tepat

Hantavirus diketahui merupakan penyakit yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat, terutama di wilayah pertanian di beberapa provinsi seperti Manitoba, Saskatchewan, Alberta, dan British Columbia di Kanada.

Setiap tahunnya, hanya beberapa kasus yang tercatat, namun penyakit ini tetap diawasi ketat oleh otoritas kesehatan karena tingkat bahayanya yang tinggi.

Dalam beberapa kondisi tertentu, seperti yang disebabkan oleh jenis Andes virus, hantavirus bahkan dapat menular dari manusia ke manusia, meskipun kasus ini tergolong jarang.

Gejala awal hantavirus biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan sakit perut, dengan masa inkubasi sekitar dua hingga empat minggu.

Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium khusus seperti tes PCR, yang biasanya diproses oleh laboratorium rujukan nasional.

Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk hantavirus, sehingga penanganan pasien hanya berfokus pada perawatan untuk mengurangi gejala dan komplikasi.

Karena sifat penularannya yang berbahaya, pasien yang dicurigai terinfeksi harus menjalani isolasi dengan prosedur pengendalian infeksi yang sangat ketat.

Sementara itu, Ebola virus disease juga kembali menjadi perhatian setelah beberapa wabah terjadi secara berkala di wilayah Afrika Barat dan Afrika Tengah sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1976.

Virus ini diduga berasal dari hewan, terutama kelelawar buah, dan dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti darah, muntahan, dan cairan lainnya dari orang yang terinfeksi.

Salah satu wabah terbaru dilaporkan terjadi di Republik Demokratik Kongo, dengan jenis virus Bundibugyo ebolavirus yang memiliki tingkat kematian sekitar 30 hingga 50 persen berdasarkan data kesehatan yang ada.

Gejala Ebola umumnya berupa demam tinggi, kelelahan, nyeri otot, dan gangguan pencernaan, meskipun tidak semua pasien mengalami perdarahan seperti yang sering digambarkan.

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara dua hingga 21 hari, dan diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan PCR di fasilitas kesehatan khusus.

Para tenaga medis diwajibkan menggunakan perlindungan ketat seperti masker N95, pelindung wajah, sarung tangan, dan pakaian khusus untuk mencegah penularan saat menangani pasien.

Meski begitu, perkembangan medis telah membawa kemajuan penting, terutama untuk jenis Ebola tertentu seperti Zaire ebolavirus yang kini sudah memiliki vaksin dan terapi antivirus yang dapat menurunkan angka kematian.

Namun, untuk jenis Bundibugyo ebolavirus, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat khusus, sehingga perawatan masih berfokus pada penanganan gejala.

Kedua penyakit ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular masih terus ada, meskipun dunia medis telah mengalami banyak kemajuan dalam deteksi dan penanganannya.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online