30 Jul, 2026

Saat Trump, Netanyahu, dan Zelensky Berkumpul untuk Sang Senator

Indofakta.com, 2026-07-29 07:22:33 WIB

Bagikan:

WASHINGTON D.C. -- Di mimbar Katedral Nasional, Presiden Donald Trump mengenang sebuah lelucon yang bermula dari kekesalan dan berakhir pada persahabatan.  "Saya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan: saya membagikan nomor telepon pribadinya ke jutaan orang," kata Trump tentang mendiang Senator Lindsey Graham.

Baca juga: Piala Dunia 2026: Tuchel Bangga Inggris Raih Perunggu, tapi Sakit Semifinal Tak Terobati

Upacara pemakaman dimulai pukul dua siang waktu setempat pada Selasa, 28 Juli, dihadiri puluhan tokoh dunia.  Wakil Presiden JD Vance, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky turut duduk di antara para pelayat.  Graham wafat pada 11 Juli di usia 71 tahun akibat diseksi aorta yang dipicu penyakit kardiovaskular arteriosklerotik, meninggalkan jejak empat periode di Senat Amerika Serikat.

Baca juga: Final Piala Dunia 2026: Duel Guru dan Murid, Lionel Scaloni vs Luis de la Fuente

Keponakan almarhum, Emillie Boggs Roberts, menggambarkan Graham bukan sekadar paman atau saudara.  "Dia adalah fondasi keluarga kami," ujarnya lirih.  Hari kematiannya, Roberts baru saja memberi tahu ibunya, Senator Darline Graham, bahwa ia hamil anak kedua.  Sang ibu langsung meraih telepon untuk menyampaikan kabar itu pada Lindsey, sebuah panggilan yang tak pernah tersambung.  "Dia tak sempat memberitahunya, tapi aku yakin dia tahu dan ikut berbahagia," katanya.

Baca juga: Enam Gol Inggris Bikin Prancis Pusing Tujuh Keliling, Philadelphia Jadi Arena Roller Coaster

Trump melanjutkan cerita yang mewarnai hubungan mereka.  Pada 2016, saat Graham masih jadi pesaingnya di pemilihan pendahuluan Partai Republik, senator itu melontarkan komentar yang cukup pedas.  Trump membalas dengan membocorkan nomor pribadi Graham di siaran langsung televisi.  Graham segera membuat video dirinya menghancurkan ponsel itu dan mengganti nomornya.  Namun, seperti disampaikan Trump sambil tertawa getir, "Saya meledakkan teleponnya hanya sehari, tapi dia terus menelepon saya selama 10 tahun berikutnya.  Itu tidak mudah."

Wakil Presiden Vance menyorot tawa Graham yang "gagah dan menular."  Bagi Vance, senator asal South Carolina itu punya rasa ingin tahu yang tulus pada siapa pun: dari pramusaji di ruang makan Senat hingga staf magang yang baru tiga hari bekerja.  "Dia terpesona pada orang karena dia mencintai mereka," kata Vance di Capitol.

Baca juga: Prediksi Skor Spanyol vs Argentina: Messi Akan Membuktikan Bahwa Brankas Paling Kokoh Pun Bisa Terbuka

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune menyebut kehilangan ini sangat menyakitkan.  "Sulit membayangkan tidak ada lagi makan malam di Senat bersama Lindsey," ujarnya.  Thune menggambarkan Graham sebagai tokoh besar di Senat dan panggung internasional.  Pada bulan-bulan terakhir hidupnya, Graham menjadi salah satu pendukung paling gigih perang Presiden Trump dengan Iran, meneguhkan perannya sebagai suara keras dalam kebijakan luar negeri Amerika.

Gubernur New Hampshire Kelly Ayotte punya kenangan yang lebih jenaka.  Tak lama setelah insiden nomor telepon, Graham pergi menonton film "Minions" bersama keluarga Ayotte.  Putra Ayotte yang waktu itu berusia lima atau enam tahun ikut menjawab panggilan-panggilan telepon yang masih saja masuk.  "Jake akan mengangkat dan berkata, 'Oh, hei, siapa ini? Kenapa kamu menelepon?'" kenang Ayotte, menambahkan bahwa kehilangan Graham berarti kehilangan salah satu suara paling bersemangat tentang peran Amerika di dunia.

Hari itu di Katedral hanyalah awal dari prosesi perpisahan.  Sebuah upacara publik akan digelar di First Baptist Church, Columbia, South Carolina, keesokan harinya.  Sementara itu, Netanyahu dan Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Presiden Trump di Capitol, menandai pertemuan pertama mereka sejak perang Iran berkecamuk.

Di antara doa dan nyanyian, kenangan tentang Graham bukan cuma tentang kebijakan atau manuver politik tingkat tinggi.  Ia dikenang sebagai pribadi yang membuat keseharian di koridor kekuasaan terasa lebih hidup, lengkap dengan tawa lepas yang siap pecah kapan saja.  "Dicintai oleh Lindsey adalah berkah sejati," bisik Roberts, mewakili banyak orang yang merasa kehilangan fondasi.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online