BANDUNG -- Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung malam itu seolah menjadi saksi bisu atas dua perbedaan sikap manusia. Di sebuah posko relawan banjir di kawasan Dayeuhkolot, tampak dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri untuk kemanusiaan: Bang Jun, seorang relawan senior berusia 50-an dengan rambut yang mulai memutih, dan Dika, relawan muda yang penuh semangat namun seringkali dihantui kegelisahan.
Baca juga: Perkuat Komitmen Wajib Belajar 13 Tahun: Bunda PAUD Simalungun Resmikan Dua TK Negeri PembinaMalam itu, seperti biasa, mereka berdua bertugas menerima dan memilah pakaian bekas layak pakai dari para donatur. Puluhan karung pakaian basah dan kotor berdatangan, dan keduanya bekerja tanpa banyak bicara, hanya diiringi suara rintik hujan di atap seng posko.
Baca juga: Bupati Samosir Kembali Serahkan Bantuan 4 Ton Benih Bawang PutihDi tengah kesibukan itu, tangan Dika tiba-tiba terhenti. Dari dalam sebuah jaket lusuh yang baru saja ia periksa, ia menemukan sebuah dompet kecil. Dengan hati-hati ia membukanya. Matanya langsung membelalak.
Baca juga: Dasco Jadi Jembatan Damai, Hotman dan PWI Akhiri Laporan "Otak Enggak Sih?""Bang Jun, lihat ini!" seru Dika sambil menyerahkan dompet itu.
Baca juga: Masyarakat Cingkes Kecamatan Dolok Silou Antusias Sambut Layanan Terpadu Pemkab SimalungunBang Jun menghampiri dan menerima dompet tersebut. Di dalamnya, selain kartu identitas atas nama seorang wanita paruh baya, terselip dua buah gelang emas yang tampak cukup berat dan beberapa lembar uang tunai yang cukup banyak. Di balik kartu identitas itu, terselip selembar foto usang seorang anak gadis kecil yang tersenyum riang."Wah, ini pasti tidak sengaja tersimpan. Pemiliknya mungkin lupa," ujar Bang Jun pelan. "Besok pagi kita usut alamatnya. KTP-nya ada, kita kembalikan."Dika mengangguk setuju. Namun, sepanjang malam itu, Dika tidak bisa berhenti memikirkan dompet tersebut. Ia mondar-mandir, sesekali melirik ke arah meja laci tempat Bang Jun menyimpan dompet itu."Bang," panggil Dika akhirnya, mendekati Bang Jun yang sedang menyeruput kopi hangat. "Bagaimana kalau ternyata alamatnya tidak ketemu? Atau, bagaimana kalau pemiliknya sudah meninggal karena banjir? Kita kan tidak tahu."Bang Jun meletakkan cangkirnya. "Kita urus besok. Sekarang, istirahatlah."Namun Dika tetap gelisah. "Tapi, Bang, bagaimana dengan gelang itu? Ini kan amanah yang sangat berat. Bagaimana kalau kita dituduh mengambilnya? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dan barang ini hilang? Saya jadi tidak bisa tidur memikirkannya."Bang Jun tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya. Ia membuka laci meja, mengambil dompet itu, dan meletakkannya di hadapan Dika."Dika," kata Bang Jun lembut, "kamu lihat laci itu?"Dika menoleh ke arah meja. "Iya, Bang. Laci tempat Bapak menyimpan dompet tadi.""Nah," lanjut Bang Jun, matanya teduh namun penuh makna. "Saya sudah menutup laci itu lima menit yang lalu. Dompet dan semua isinya sudah saya tinggalkan di dalam sana. Pikiran saya sekarang sudah di sini, menikmati kopi, menunggu fajar, dan bersiap untuk tugas evakuasi berikutnya."Bang Jun menatap sahabat mudanya itu dalam-dalam. "Tapi, kamu, Dika. Meski laci itu sudah tertutup, dompet itu masih kamu keluarkan, kamu buka-buka, dan kamu letakkan di atas kepalamu sendiri hingga tidurmu terusik. Saya sudah meninggalkan dompet itu di laci meja tadi malam. Sedangkan kamu, hingga detik ini, masih membawa dompet itu dalam pikiranmu."Dika terpaku. Kata-kata Bang Jun menghantam kesadarannya.Pagi harinya, mereka berdua dengan mudah menemukan alamat pemilik dompet tersebut. Seorang nenek tua yang selamat dari banjir dan sedang kebingungan di pengungsian. Tangis haru sang nenek pecah saat menerima dompetnya kembali. Dua gelang emas itu, ternyata, adalah satu-satunya warisan untuk cucu semata wayangnya yang fotonya terselip di sana.Dalam perjalanan pulang, Dika merasakan kelegaan yang luar biasa. Bukan hanya karena amanah telah disampaikan, tetapi karena ia belajar bahwa masalah yang telah diselesaikan, sudah seharusnya disimpan rapat di dalam kotak 'masa lalu'. Memikirkannya berulang kali hanya akan menjadi beban yang melambankan langkah kaki. Malam itu, ia belajar dari Bang Jun tentang cara mengosongkan laci pikirannya, agar ada ruang baru untuk diisi dengan harapan dan kebahagiaan.PESAN:
Banyak orang tanpa disadari sering menenteng beban pikiran yang semakin berat ke mana pun mereka pergi. Satu urusan yang telah selesai masih terus diungkit dan dikhawatirkan, sehingga ia menetap di dalam keranjang kehidupan dan memperlambat langkah. Persoalan yang telah berlalu dan selesai, seharusnya tidak menjadi penghalang kemajuan di masa depan. Tutuplah lacinya, lepaskan! Anda akan merasakan betapa ringan beban hidup Anda selanjutnya. Hanya orang-orang yang mau melepaskan trauma dan kecemasan historisnya yang akan mempunyai kesempatan mengisi keranjang pikirannya dengan hal lain: kebahagiaan.(Wy/Red)
Bagikan: