5 Oct, 2026

Kapak Darurat di Kokpit! Kopilot Flydubai Coba Jatuhkan Pesawat Penuh Penumpang Israel, Hampir Jadi Tragedi

Indofakta.com, 2026-10-04 10:35:22 WIB

Bagikan:

DUBAI -- Jaksa Agung Uni Emirat Arab menyatakan kopilot penerbangan Flydubai FZ1073 mencoba melakukan aksi teroris di udara.

Baca juga: Kapak Darurat di Kokpit! Kopilot Flydubai Coba Jatuhkan Pesawat Penuh Penumpang Israel, Hampir Jadi Tragedi

Pernyataan resmi itu disampaikan Sabtu, 3 Oktober 2026, tiga hari setelah kejadian di pesawat yang terbang dari Dubai menuju Tel Aviv.

Baca juga: Kapak Darurat di Kokpit! Kopilot Flydubai Coba Jatuhkan Pesawat Penuh Penumpang Israel, Hampir Jadi Tragedi

Menurut Counsellor Dr. Hamad Saif Al Shamsi, investigasi menemukan bahwa kopilot mulai menjalankan rencananya saat pesawat sedang terbang.

Baca juga: Mourinho Jadikan Vinicius Poros Real Madrid Baru

Ia menyerang kapten di dalam kokpit dengan kapak darurat, lalu mencoba mengambil alih kendali pesawat.

Baca juga: Geger Bandara Leipzig, Drone Bersenjata Diduga Terlibat Sabotase

Kapak darurat itu merupakan peralatan standar yang disimpan di kokpit untuk keperluan evakuasi saat kecelakaan atau kebakaran.

Alat tersebut tidak perlu diselundupkan masuk pesawat.

Penerbangan FZ1073 berangkat dari Bandara Internasional Dubai pada 30 September 2026.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 itu mengangkut sekitar 174 penumpang, sebagian besar warga Israel, beserta kru.

Saat pesawat berada di ketinggian sekitar 34.000 kaki di atas wilayah Arab Saudi, terjadi penyerangan di kokpit.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat turun tajam sekitar 16.625 kaki dalam waktu sedikit lebih dari 30 detik.

Kapten Smit Machchhar, warga negara India, mengalami luka serius.

Meski terluka dan berdarah, ia berhasil membuka pintu kokpit.

Penumpang dan kru segera masuk, melumpuhkan kopilot, lalu mengikatnya.

Dua pilot Flydubai yang sedang bertugas sebagai penumpang mengambil alih kendali pesawat.

Mereka mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara Tabuk, Arab Saudi barat laut.

Semua penumpang dan kru selamat.

Pihak berwenang UAE belum secara resmi mengumumkan identitas kopilot.

Namun beberapa sumber yang mengetahui investigasi menyebutkan namanya sebagai Hammam al-Hammami, warga negara Oman.

Menurut laporan media yang mengutip sumber berpengetahuan, ia sebelumnya pernah dilarang terbang oleh Oman Air karena kekhawatiran terkait pandangan ekstrem.

Ia sempat bekerja sebagai trainee kopilot di maskapai nasional Oman, lalu dipindahkan ke posisi administratif setelah ditemukan materi ekstrem.

Laporan lain menyebutkan ia sempat menjalani pelatihan singkat di Royal Air Maroc, tetapi aplikasinya ditolak.

Oman hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai kasus ini.

Investigasi UAE masih berlangsung untuk memastikan motif, hubungan dengan pihak lain, serta memeriksa bukti fisik dan digital.

Jaksa Agung UAE menegaskan bahwa temuan awal menunjukkan adanya perencanaan aksi teroris.

Investigasi akan dilanjutkan hingga seluruh prosedur selesai, termasuk analisis teknis.

Otoritas Penerbangan Sipil Umum UAE memuji keberanian Kapten Smit Machchhar, kru, dan penumpang.

Tindakan cepat mereka mencegah konsekuensi yang lebih parah.

Kapten telah kembali ke UAE setelah mendapat perawatan medis dan dinyatakan dalam kondisi baik.

Kopilot dipindahkan dari Arab Saudi ke Abu Dhabi pada Kamis, 1 Oktober 2026, dan kini berada dalam tahanan UAE.

Pihak Israel menyatakan akan ikut serta dalam investigasi yang dipimpin UAE.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya menyebut peristiwa itu sebagai upaya menabrakkan pesawat.

Flydubai menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv hingga pemberitahuan lebih lanjut atas permintaan otoritas.

Bagaimana seseorang yang sebelumnya menjadi perhatian otoritas penerbangan di negara lain bisa berada di kokpit rute sensitif masih menjadi fokus pemeriksaan.

Pihak UAE menegaskan tidak ada toleransi terhadap ekstremisme.

Anwar Gargash, penasihat senior Presiden UAE, menyatakan negara itu akan bertindak tegas terhadap retorika ekstrem.

Hasil akhir investigasi masih menunggu.

Sementara itu, pesawat yang rusak rudder akibat manuver tajam itu telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya sistem vetting awak pesawat dan respons cepat di dalam kabin ketika situasi darurat terjadi di ketinggian.

Semua pihak yang terlibat kini menunggu hasil lengkap dari proses hukum yang sedang berjalan.

(Drt/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online