Cimahi – Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, mengajak masyarakat mengubah sampah anorganik menjadi sumber ekonomi melalui gerakan “Sampah Bisa Jadi Duit”. Gerakan ini dinilai relevan di tengah persoalan kelebihan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang selama ini menjadi salah satu lokasi pembuangan sampah dari wilayah Bandung Raya.
Baca juga: Pemprov Jabar Dorong Gerakan Terpadu Penanganan Urusan Kesehatan di JabarWahyu mengajak warga mulai memilah sampah dari rumah, terutama barang anorganik yang masih memiliki nilai jual, seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, dan besi bekas. Selain menghasilkan pendapatan, langkah tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut dan dibuang ke TPA.
Baca juga: Daerah Di Jabar Perlu Pertahankan Sumber Pangam“Barang-barang yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sampah, kalau dikumpulkan dan dipilah dengan baik ternyata masih memiliki nilai ekonomis,” ujar Wahyu dalam keterangannya melalui media sosial, Jumat (16/10/2026).
Baca juga: Wali Kota Farhan Usulkan Raperda Rusun, Gender, BMD, dan PDAM, Untuk Dibahas DPRD Kota BandungMenurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan ke TPA. Ketika kapasitas tempat pembuangan akhir semakin terbebani, pengurangan sampah sejak dari sumbernya menjadi langkah penting yang perlu diperkuat melalui keterlibatan masyarakat.Dalam konteks Kota Cimahi, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, RT, dan RW dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap TPA Sarimukti. Sampah anorganik yang masih bernilai dapat disalurkan kepada pengepul atau melalui bank sampah, sedangkan sampah lainnya perlu dikelola sesuai jenis dan karakteristiknya.
Baca juga: Legislatif Jabar Dukung Kerja Sama Pemprov Jabar dengan 86 Rumah Sakit“Kegiatan ini bukan hanya soal nilai ekonominya, tetapi juga bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan. Kota Cimahi perlu mulai membangun kemandirian pengelolaan sampah dari tingkat RT dan RW,” katanya.Wahyu menjelaskan, hasil penjualan barang bekas yang dikumpulkan warga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan bersama, mulai dari kas RT, kegiatan sosial, santunan anak yatim, perbaikan fasilitas umum, hingga kegiatan keagamaan.Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.Ia berharap para ketua RT, RW, lurah, dan camat dapat mendorong gerakan serupa di wilayah masing-masing. Menurutnya, perubahan pola pengelolaan sampah perlu dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, kemudian diperluas menjadi gerakan kolektif masyarakat.Wahyu pun mengajak warga Kota Cimahi untuk tidak lagi memandang seluruh sampah sebagai barang buangan. Sampah yang dipilah dan dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus mengurangi jumlah material yang berpotensi berakhir di TPA.“Harapannya, lingkungan menjadi lebih bersih, warga mendapatkan manfaat ekonomi, dan silaturahmi antarwarga semakin erat,” pungkasnya.Gerakan “Sampah Bisa Jadi Duit” diharapkan menjadi salah satu langkah nyata membangun budaya pengurangan sampah dari sumbernya. Di tengah tekanan terhadap kapasitas TPA Sarimukti, keterlibatan warga menjadi bagian penting untuk mendorong pengelolaan sampah Kota Cimahi yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi..(asep)
Bagikan: