23 Oct, 2026

Penyintas Leukemia Sejak Usia 7 Tahun, Jason Chng Kini Jadi Dokter di Singapura

Indofakta.com, 2026-10-23 07:21:23 WIB

Bagikan:

Bandung – Perjuangan melawan kanker sejak usia tujuh tahun tidak memadamkan cita-cita Jason Chng untuk menjadi dokter. Setelah melewati pengobatan intensif akibat leukemia, ia kini menjalani tahun ketiga sebagai dokter residen patologi anatomi di Rumah Sakit Umum Singapura (SGH).

Baca juga: Influenza A Meledak Lagi di Indonesia! Positivity Rate 56%, Sejarah Kelam Sejak 1918 yang Bikin Merinding

Kisah Jason menjadi bukti bahwa harapan tetap terbuka bagi anak-anak yang menghadapi penyakit serius. Pengalaman sebagai pasien kanker juga membentuk cara pandangnya dalam memahami kondisi fisik dan emosional pasien.

Baca juga: Koperasi FANANTARA Dukung Agrinas Hentikan KSO, Dorong Koperasi Masyarakat Kelola Lahan Sawit Negara

Dikutip dari laporan CNA Indonesia yang ditulis Nikki Yeo dan diterbitkan pada 21 Oktober 2026, Jason didiagnosis leukemia ketika berusia tujuh tahun. Saat itu, hasil pemeriksaan menunjukkan jumlah sel darah putihnya mencapai 140 kali lipat dari angka normal, sehingga penyakitnya masuk kategori berisiko tinggi.

Baca juga: Jakarta Menuju Air Siap Minum, Pipa Tua dan NRW Jadi Tantangan

Sebelum diagnosis tersebut, Jason dikenal sebagai anak yang aktif. Namun, keluarganya mulai khawatir setelah ia sering mengalami memar, nyeri dada, kehilangan nafsu makan, dan terlihat semakin pucat.

Baca juga: Bukan Cuma Soal Perut, Lamanya Feses di Dalam Tubuh Bisa Tentukan Nasib Kesehatan Jangka Panjang

Pemeriksaan lanjutan memastikan bahwa ia menderita leukemia. Jason kemudian menjalani serangkaian pengobatan berat, termasuk kemoterapi, pemeriksaan sumsum tulang, serta perawatan untuk mengatasi infeksi yang berulang.

Proses pengobatan tersebut tidak hanya menguras tenaga Jason, tetapi juga menjadi ujian emosional bagi keluarganya. Ibunya, Teo Wei Wei, mengaku terpukul ketika mengetahui kondisi putranya.

Meski demikian, dukungan keluarga, tenaga medis, serta organisasi pendamping anak penderita kanker membantunya menjalani masa pengobatan. Setelah kondisinya membaik dan memasuki masa remisi, Jason akhirnya dapat kembali bersekolah.

Pengalaman Pasien Mengantarkannya Menjadi Dokter

Ketertarikan Jason terhadap dunia medis tumbuh dari rasa ingin tahunya tentang tubuh manusia dan penyakit yang pernah dialaminya.

Pada usia 17 tahun, ia mendapat kesempatan magang di departemen onkologi anak National University Hospital (NUH). Di tempat tersebut, ia kembali bertemu dengan profesor yang pernah merawatnya ketika masih kecil.

Sikap dokter yang ramah dan mampu menenangkan pasien anak meninggalkan kesan mendalam. Pengalaman itu turut memperkuat keinginannya untuk menekuni profesi kedokteran.

Jason mengaku bersyukur dapat melanjutkan pendidikan kedokteran meskipun harus menghadapi tantangan akademik dan tuntutan profesi yang tidak ringan.

Kini, dalam bidang patologi anatomi, ia memeriksa sampel jaringan dan darah untuk membantu dokter menentukan diagnosis secara akurat. Pekerjaannya juga mencakup analisis mutasi gen pada kasus kanker untuk mendukung penentuan terapi dan prognosis pasien.

Mengedepankan Empati kepada Pasien

Pengalaman sebagai penyintas kanker membuat Jason memahami bahwa pasien tidak cukup dipandang berdasarkan diagnosis atau kondisi medisnya saja.

Menurutnya, rasa takut, ketidakpastian, kelelahan, serta tekanan emosional merupakan bagian dari perjalanan pengobatan yang perlu dipahami oleh tenaga medis.

Ia berusaha melihat persoalan dari sudut pandang pasien dan keluarga, terutama ketika mereka menghadapi proses perawatan yang panjang dan rumit.

Jason juga berharap kisah hidupnya dapat memberikan harapan kepada anak-anak yang sedang menjalani pengobatan kanker beserta keluarga mereka.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengucilkan orang yang menderita penyakit serius. Sebaliknya, mereka perlu diterima dan didukung agar tetap dapat menjalani kehidupan serta berkontribusi bagi masyarakat.

Bagi Jason, pengalaman melewati kanker memang bukan sesuatu yang ingin diulang. Namun, perjalanan tersebut memberinya pemahaman mendalam tentang arti empati, dukungan, dan kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan.(Red)

 

Sumber:CNA Indonesia

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online