JAKARTA -- Pergeseran material di industri otomotif global kembali terlihat ketika sejumlah produsen mobil mulai mengubah pendekatan pada sistem kelistrikan kendaraan mereka.
Baca juga: Rahasia Merawat HP: Tips Terbaru dari Penelitian Internasional untuk Performa Optimal dan Umur PanjangPerubahan ini mencakup penggunaan kabel aluminium yang lebih ringan dan hemat biaya sebagai pengganti tembaga, yang selama lebih dari dua abad menjadi bahan utama dalam kabel listrik.
Baca juga: Kecanduan Internet di Masa Remaja, bisa Mengubah Struktur dan Fungsi Otak MerekaPada 30 Juni 2026, Ferrari dan BMW tercatat meluncurkan model-model baru yang mengadopsi kabel aluminium, mempercepat tren transisi yang sebelumnya juga telah dilakukan Tesla serta sejumlah produsen kendaraan listrik di China.
Baca juga: Pameran Inovasi Otomotif Kodam III/Slw Di Kiara Artha Park, Dibuka Untuk UmumLangkah ini sejalan dengan pergeseran industri yang lebih luas, yang menurut JPMorgan dapat memengaruhi sekitar 2 persen permintaan tembaga global tahun ini, di tengah tekanan harga dan perubahan struktur pasokan logam.
Baca juga: Sekda Jabar:Transformasi Digital Diterapkan di Lingkup Provinsi Jawa BaratTekanan tersebut muncul dari kombinasi keterbatasan pasokan dan meningkatnya permintaan dari sektor energi hijau serta pusat data, yang dalam jangka panjang diperkirakan terus menjaga harga tembaga pada level tinggi.Ferrari sendiri telah lebih dulu menggunakan aluminium pada berbagai komponen kendaraan, termasuk bodi dan sasis, sebelum memperluas penggunaannya ke sistem kelistrikan.Perusahaan itu mulai mengaplikasikan kabel aluminium pada mobil sport hybrid 296, lalu memperluasnya ke model lain termasuk Luce, mobil listrik pertamanya yang diluncurkan bulan lalu.Menurut eksekutif komunikasi Ferrari Dario Esposito, penggunaan material ini mampu menghemat hingga 20 persen bobot total kabel."Kami tidak memilih aluminium karena lebih murah, kami memilih bahan yang memiliki performa lebih baik," kata Esposito.BMW juga telah lebih lama mengadopsi pendekatan serupa, dimulai pada 2011 melalui seri 1 subkompak, sebelum memperluas penggunaan konduktor aluminium pada mobil hybrid dan kendaraan listrik terbaru mereka.Saat ini, BMW menggunakan porsi besar kabel aluminium pada sistem tegangan tinggi dan rendah dalam teknologi eDrive EV yang diluncurkan tahun lalu.Di sisi lain, Stellantis juga dilaporkan mulai mengganti kabel tembaga dengan aluminium, sementara sejumlah produsen EV China seperti AVATR, XPeng, dan Xiaomi telah masuk dalam gelombang transisi material tersebut.Perbedaan harga menjadi salah satu faktor utama, dengan aluminium yang diperdagangkan sekitar 3.100 dolar AS per ton, jauh lebih rendah dibanding tembaga yang mencapai sekitar empat kali lipatnya.Namun, peralihan ini tidak sepenuhnya tanpa hambatan karena aluminium membutuhkan volume lebih besar untuk menghantarkan listrik yang setara, serta proses produksinya yang lebih intensif energi dan berpotensi menghasilkan emisi lebih tinggi.Xavier Mathieu dari Nexans menyebut produsen masih akan memilih tembaga untuk aplikasi tertentu, tetapi mulai beralih ke aluminium ketika harga tembaga mencapai sekitar 3,5 kali lebih mahal, sementara saat ini perbandingan telah melampaui 4,2 kali.Di China, dukungan kebijakan turut mempercepat adopsi aluminium, dengan pemerintah mendorong penggunaan material tersebut dalam dokumen kebijakan yang dirilis Maret 2025.Analis Zhuochuang memperkirakan sekitar 25 hingga 30 persen komponen berbasis tembaga di sektor listrik, otomotif, dan peralatan rumah tangga dapat digantikan aluminium pada 2030 berdasarkan volume logam.Sejumlah pembuat EV seperti AVATR, XPeng, dan Xiaomi telah masuk dalam daftar produsen yang mengadopsi kabel aluminium, sejalan dengan tren efisiensi biaya dan pengurangan bobot kendaraan listrik.Tesla juga disebut menjadi salah satu acuan dalam penggunaan material ringan tersebut sejak peluncuran Model Y pada 2019 dan penerapan lebih lanjut pada Cybertruck.(Wy/Red)
Bagikan: