JAKARTA -- Wabah virus Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terus menjadi perhatian dunia. Jumlah korban meninggal akibat penyakit mematikan tersebut kini telah melewati angka 500 orang, seiring meningkatnya jumlah kasus yang terkonfirmasi.
Baca juga: Erling Haaland Cetak Sejarah, Bawa Norwegia ke Perempat Final Piala Dunia 2026 dan Bangkitkan Kebanggaan NasionalBerdasarkan laporan pemerintah yang dikutip Kantor Berita Kongo pada Senin, tercatat sebanyak 1.561 kasus Ebola telah dikonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 506 orang meninggal dunia, 253 pasien berhasil sembuh, sementara 628 lainnya masih menjalani perawatan.
Baca juga: Cristiano Ronaldo Menangis Usai Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Apakah Ini Akhir Era Sang Superstar?Dengan angka tersebut, tingkat kematian akibat wabah Ebola di RD Kongo diperkirakan mencapai 32,4 persen. Artinya, sekitar satu dari tiga orang yang terinfeksi dalam laporan tersebut tidak berhasil bertahan hidup.
Baca juga: Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Ronaldo Hadapi Ujian Terberat, La Roja Datang Lebih Percaya DiriSituasi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meningkatkan kewaspadaan. Pada Mei 2026, WHO menetapkan wabah Ebola di RD Kongo dan Uganda sebagai kondisi darurat yang berpotensi menimbulkan ancaman lebih luas ke negara lain.WHO menilai risiko penyebaran virus Ebola di kawasan tersebut masih tergolong tinggi, terutama karena mobilitas masyarakat antarwilayah dapat mempercepat penularan jika tidak dikendalikan dengan baik.
Baca juga: Prosesi Duka Khomeini Mosalla Dimulai, Jenazah Khamenei DisemayamkanPemerintah RD Kongo pun mulai memperketat langkah pencegahan. Pada 29 Juni 2026, pemerintah melarang kegiatan yang melibatkan kerumunan besar di ibu kota Kinshasa serta beberapa provinsi terdampak, yaitu Tshopo, Haut-Uele, dan Bas-Uele.Kebijakan tersebut diumumkan Menteri Dalam Negeri RD Kongo Jacquemain Shabani melalui surat edaran kementerian yang dikirimkan kepada para gubernur wilayah terdampak pada 27 Juni 2026.Menurut Shabani, pembatasan aktivitas masyarakat dilakukan karena meningkatnya risiko kesehatan akibat penyebaran virus Ebola di sejumlah wilayah negara tersebut.Virus Ebola dikenal sebagai salah satu penyakit dengan tingkat kematian tinggi. Penyakit ini dapat menyebabkan demam berat, gangguan pendarahan, hingga kegagalan organ pada kasus tertentu. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi.Dengan jumlah kasus yang terus bertambah, pemerintah RD Kongo bersama lembaga kesehatan internasional kini berupaya memperkuat pelacakan kasus, perawatan pasien, serta pencegahan agar wabah tidak meluas ke wilayah lain.(Wy/Red)
Bagikan: