WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, di Gedung Putih dengan sederet pujian yang menandai upaya kedua negara membuka lembaran baru hubungan bilateral. Trump bahkan menyebut al-Zaidi sebagai pemimpin yang berpeluang memberi pengaruh besar bagi kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Inggris Lolos dari Miami yang Menyiksa, Bellingham Jadi Pembeda saat Gilas Norwegia 1-2Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 14 Juli 2026, itu menjadi kunjungan resmi pertama al-Zaidi ke Washington sejak dilantik sebagai perdana menteri pada Mei lalu. Di hadapan wartawan, Trump mengatakan kemenangan al-Zaidi dalam pemilu berlangsung sangat meyakinkan dan menjadi awal hubungan yang, menurutnya, akan berlangsung dalam jangka panjang.
Baca juga: Babak Pertama Norwegia vs Inggris: Bellingham Jadi Penyelamat, Skor Imbang 1-1"Kita memiliki seorang juara baru. Dia memenangkan pemilu dengan sangat telak," ujar Trump saat menerima al-Zaidi di Ruang Oval.
Baca juga: Dewan Keamanan PBB Selesaikan Wawancara Awal Calon Sekjen BaruTrump mengatakan pembicaraan keduanya tidak hanya menyangkut hubungan diplomatik, tetapi juga peluang kerja sama ekonomi. Irak, kata dia, memiliki cadangan minyak yang sangat besar sehingga membuka ruang bagi investasi dan berbagai kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan.
Baca juga: Spanyol Singkirkan Belgia dan Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026, Mikel Merino Kembali Jadi PahlawanMenurut Trump, hubungan Washington dan Baghdad kini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia optimistis pemerintahan baru Irak dapat menjadi mitra strategis Amerika Serikat di kawasan."Kami akan memiliki hubungan jangka panjang dengan Irak. Kami juga akan memiliki hubungan jangka panjang dengan seorang pemimpin yang akan menjadi tokoh besar, bukan hanya bagi Irak, tetapi juga Timur Tengah," kata Trump.Presiden AS itu menilai potensi ekonomi Irak sangat besar. Karena itu, ia berharap kedua negara dapat memperluas kerja sama yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan investasi di sektor energi.Dalam pertemuan tersebut, Trump juga kembali menyinggung invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003. Ia mengaku sejak awal tidak pernah mendukung operasi militer itu karena menganggap Washington menyerang negara yang keliru."Frankly, they attacked the wrong country, and they did a lot of damage," kata Trump.Ia menambahkan kehadiran militer Amerika Serikat di Irak kini tidak lagi menjadi prioritas utama. Menurut dia, Washington hanya akan memberikan bantuan apabila memang diperlukan.Al-Zaidi menyambut positif pernyataan tersebut. Ia mengucapkan terima kasih atas sambutan yang disebutnya hangat sekaligus menegaskan bahwa penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak akan berlangsung sesuai jadwal pada 30 September 2026."Pada 30 September, pasukan Amerika Serikat akan keluar dari Irak. Namun perusahaan-perusahaan Amerika akan tetap berada di Irak," ujar al-Zaidi.Menurut dia, hubungan kedua negara ke depan akan lebih bertumpu pada kemitraan ekonomi daripada kerja sama militer. Pemerintah Irak juga berkomitmen memastikan tidak ada lagi kelompok bersenjata yang beroperasi di luar kendali negara setelah proses penarikan pasukan selesai.Al-Zaidi mengatakan pemerintahannya membutuhkan mitra strategis untuk memperkuat perekonomian nasional. Dalam pandangannya, Amerika Serikat merupakan mitra yang memiliki kapasitas besar untuk mendukung agenda pembangunan Irak.Ketika ditanya mengenai kemungkinan Irak keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries, al-Zaidi tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan Irak menginginkan porsi yang adil di dalam organisasi tersebut.Pertemuan ini menandai bergesernya fokus hubungan Amerika Serikat dan Irak dari kerja sama keamanan menuju penguatan investasi, perdagangan, dan sektor energi. Bila penarikan pasukan berjalan sesuai rencana, kemitraan ekonomi diperkirakan akan menjadi fondasi utama hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang.(Wy/Red)
Bagikan: