19 Jul, 2026

Kisah Unik Keturunan Sukkunan Barita Sitanggang Upar yang Menjadi Marga Siadari

Indofakta.com, 2026-07-18 16:16:19 WIB

Bagikan:

Samosir -- Di Tanah Batak, banyak kisah turun-temurun yang sarat makna, namun perlahan mulai terlupakan. Padahal, cerita-cerita seperti inilah yang menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas masyarakat Batak. Salah satu kisah yang menarik adalah tentang seorang keturunan Sukkunan Barita Sitanggang Upar yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu garis keturunan marga Siadari di Ambarita, Simanindo.

Baca juga: Pembangunan Jembatan Gantung Sungai Afia Dimulai, Satgas Bakti TNI Kebut Pekerjaan Demi Akses Warga

Berdasarkan cerita yang diwariskan para orang tua, Raja Upar memiliki tiga orang putra, yaitu Sukkunan Barita, Raja Manassir, dan Guru Mangarerak. Sukkunan Barita menetap di kawasan Salaon Dolok dan dari garis keturunannya kemudian lahir berbagai kisah, termasuk cerita tentang seorang anak yang akhirnya dibesarkan oleh keluarga bermarga Siadari.

Baca juga: Kasus Kekerasan Seksual Ponpes NTB, LPA Ungkap 20 Perkara dalam Empat Tahun

Konon, seorang remaja keturunan Sukkunan Barita mendapat tugas dari orang tuanya menggembalakan kerbau. Seperti biasa, ia mengikuti ke mana pun kerbau-kerbau itu berjalan. Namun tanpa disadari, ia telah berjalan sangat jauh hingga keluar dari kampung halamannya. Ia tersesat sampai ke wilayah Ambarita, Simanindo, dan tidak lagi mengetahui jalan pulang.

Baca juga: Wujudkan Lingkungan Bersih dan Berkelanjutan, Pemkab Simalungun Bahas Revisi RIPS

Menjelang malam, sang anak tak kunjung kembali. Orang tuanya mulai cemas dan melakukan pencarian ke tempat-tempat yang biasa menjadi lokasi penggembalaan. Hari demi hari berlalu, tetapi anak itu tidak juga ditemukan. Pencarian pun diperluas hingga ke daerah Ambarita.

Baca juga: SMAN 1 Namlea Buru Dukung Program GAMAS BKKBN, Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah Bangun Anak Lebih Percaya Diri

Dalam perjalanan yang melelahkan itu, sang ayah bertemu dengan seorang warga setempat yang bertanya, "Nanaeng tudia do hamu, amang?" (Bapak hendak ke mana?).
Dengan wajah penuh harap, sang ayah menjawab bahwa ia sedang mencari anaknya yang telah hilang beberapa hari.

Warga tersebut kemudian mengajaknya beristirahat di rumahnya. Setelah dipersilakan makan dan minum, pandangan sang ayah tiba-tiba tertuju pada sebuah batahi, yaitu bambu kecil yang biasa dipakai anak penggembala kerbau. Bambu itu tergantung di dalam rumah.

Seketika ia mengenalinya.

"Itu adalah batahi milik anakku. Dari mana kalian mendapatkannya?" tanyanya.

Pemilik rumah yang bermarga Siadari kemudian menjelaskan bahwa mereka telah menemukan anak tersebut dalam keadaan tersesat. Karena tidak mengetahui asal-usulnya, mereka membawanya pulang, merawatnya, dan menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.

Mendengar penjelasan itu, sang ayah sebenarnya ingin membawa pulang anaknya. Namun keluarga Siadari memohon dengan sungguh-sungguh agar anak tersebut tetap tinggal bersama mereka.

Melalui musyawarah adat, kedua belah pihak akhirnya mencapai sebuah kesepakatan yang hingga kini masih dikenang melalui ungkapan:
"Anak ni Sitanggang Upar ma on dipardagingon, alai anak ni Siadari ma on dipartondion."
Artinya, secara darah ia tetap merupakan keturunan Sitanggang Upar, tetapi secara adat dan kehidupan sosial ia menjadi anak keluarga Siadari.

Sejak saat itu, pemuda tersebut menetap di Lumban Siadari, Ambarita, Simanindo. Ia kemudian berkeluarga dan melahirkan keturunan yang kini diperkirakan telah mencapai tujuh hingga sembilan generasi. Keturunannya telah menyebar ke berbagai daerah dengan menggunakan marga Siadari, namun mereka tetap mengetahui bahwa garis darah mereka berasal dari Sukkunan Barita Sitanggang Upar.

Kisah ini menjadi bukti bahwa dalam adat Batak, hubungan kekeluargaan tidak hanya dibangun oleh ikatan darah, tetapi juga oleh nilai kasih sayang, musyawarah, dan pengangkatan anak secara adat yang dihormati oleh kedua belah pihak.

Catatan: Kisah ini merupakan cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun dari sumber yang masih terbatas. Apabila terdapat kekeliruan atau perbedaan versi, hal tersebut sangat terbuka untuk diluruskan demi melengkapi khazanah sejarah dan budaya Batak.(Jst)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online