JAKARTA -- Elon Musk kembali mengguncang dunia dengan ramalan paling ekstremnya tentang kecerdasan buatan. Dalam wawancara eksklusif dengan majalah The Economist, pendiri xAI dan Tesla itu menyatakan bahwa dalam waktu sekitar lima tahun, AI akan melampaui gabungan seluruh kemampuan intelektual umat manusia.
Baca juga: Iran Sindir Kuwait di Tengah Perang, Kenang Bantuan Padamkan Api Ladang Minyak 1991Pernyataan itu disampaikan Musk di tengah hiruk-pikuk industri teknologi yang semakin tidak terbendung. Rabu, 29 Juli 2026, menjadi salah satu momen ketika ketakutan dan harapan tentang masa depan peradaban manusia bertemu dalam satu ruang wawancara yang sama.
Baca juga: Piala Dunia 2026: Tuchel Bangga Inggris Raih Perunggu, tapi Sakit Semifinal Tak Terobati"Sebenarnya tidak ada lagi hal yang tidak bisa dilakukan AI lebih baik daripada manusia, mungkin selain menjadi manusia itu sendiri," ujar Musk dengan nada datar namun penuh keyakinan. Kata-kata itu bukan sekadar hiperbola seorang miliarder yang gemar membuat pernyataan kontroversial.
Baca juga: Final Piala Dunia 2026: Duel Guru dan Murid, Lionel Scaloni vs Luis de la FuenteIa membayangkan skenario paling mungkin terjadi adalah era kelimpahan yang luar biasa. "Di mana siapa pun bisa mendapatkan apa pun yang mereka bayangkan," katanya menggambarkan dunia yang sepenuhnya berubah dalam satu dekade.
Baca juga: Enam Gol Inggris Bikin Prancis Pusing Tujuh Keliling, Philadelphia Jadi Arena Roller CoasterNamun di balik gambaran surga teknologi itu, Musk justru menyisipkan ancaman yang tak kalah mengerikan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, manusia berpotensi kehilangan kendali penuh atas teknologi yang mereka ciptakan sendiri.Prediksi itu bukan isapan jempol belaka. Musk telah lama menjadi salah satu suara paling vokal tentang bahaya eksistensial AI, jauh sebelum kata "ChatGPT" masuk ke dalam percakapan sehari-hari.Yang menarik, kali ini ia mengakui bahwa tidak ada cara efektif untuk menghentikan momentum global pengembangan AI dan robotika. Bahkan jika ada tombol untuk menjeda, Musk mengatakan belum tentu tombol itu perlu ditekan.Sikap ambivalen ini mencerminkan dilema fundamental yang dihadapi para pengembang teknologi di seluruh dunia. Di satu sisi, potensi manfaat yang dijanjikan AI begitu besar; di sisi lain, risikonya bisa menghancurkan peradaban.Musk memperkirakan peluang AI benar-benar memusnahkan umat manusia berada di kisaran 10 hingga 20 persen. Angka yang cukup signifikan untuk membuat siapa pun berpikir dua kali, namun tidak cukup besar untuk menghentikan laju perkembangan.Di sinilah letak ironi terbesar dari sosok Elon Musk. Pria yang dulu menandatangani surat terbuka yang menyerukan moratorium pengembangan AI kini justru menjadi bagian dari mesin percepatan itu sendiri.Ia mendirikan xAI, perusahaan yang secara terbuka bersaing dengan OpenAI dan Anthropic dalam perlombaan menciptakan kecerdasan buatan paling canggih. Bahkan xAI telah digabung dengan SpaceX sejak awal tahun ini untuk memperkuat sumber daya perusahaan rintisan yang masih berjuang itu.Musk bukan lagi pengamat yang hanya memberi peringatan dari kejauhan. Ia adalah pemain utama di papan catur yang sama, dengan taruhan yang tidak pernah lebih tinggi dari sekarang.Dalam wawancara yang sama, Musk melontarkan kritik pedas kepada CEO OpenAI, Sam Altman. Ia menyoroti pergeseran OpenAI dari lembaga nirlaba yang berorientasi pada open-source menjadi perusahaan tertutup bernilai US$800 miliar."Saya bukan penggemar Sam Altman," kata Musk tanpa tedeng aling-aling. Kritik itu berakar pada perubahan misi organisasi yang semula ditujukan untuk kepentingan dunia menjadi entitas bisnis yang mengejar keuntungan.Perseteruan keduanya bukanlah rahasia baru di Silicon Valley. Namun konteks di balik kritik Musk kali ini jauh lebih dalam dari sekadar persaingan bisnis atau ego pribadi.Pada Mei 2026, juri pengadilan California menolak gugatan senilai US$150 miliar yang diajukan Musk terhadap OpenAI, Sam Altman, dan Greg Brockman. Gugatan itu berkaitan dengan tuduhan bahwa misi awal nirlaba OpenAI telah diabaikan.Hanya butuh waktu kurang dari dua jam bagi juri yang terdiri dari sembilan orang untuk memutuskan bahwa Musk mengajukan gugatan terlalu lambat berdasarkan batas waktu yang ditentukan hukum. Hakim Yvonne Gonzalez Rogers menerima keputusan itu dan membatalkan seluruh klaim.Musk kemudian mengkritik putusan tersebut di platform X, menyebut bahwa pengadilan "tidak pernah benar-benar memutuskan berdasarkan pokok perkara, hanya berdasarkan masalah teknis kalender". Namun kekalahan hukum itu tetap menjadi pukulan telak bagi kredibilitasnya di tengah persaingan sengit industri AI.Di balik kritiknya terhadap OpenAI, Musk justru memberikan pujian kepada pesaing langsungnya, Anthropic. Ia menyebut CEO Anthropic, Dario Amodei, sebagai figur yang berprinsip dan peduli terhadap masa depan dunia.Musk bahkan mengaitkan berdirinya Anthropic dengan ketidakpercayaan Amodei dan timnya terhadap kepemimpinan Altman di OpenAI. "Mereka akan tetap berada di OpenAI jika bukan karena ketidakpercayaan itu," kata Musk.Namun pujian itu tidak serta-merta membuat Anthropic terbebas dari sorotan. Perusahaan yang dikenal dengan model AI Claude itu justru menerima tuduhan dari berbagai pihak, termasuk Altman, bahwa mereka menggunakan pemasaran berbasis ketakutan untuk mempromosikan produknya.Di tengah persaingan dan konflik pribadi yang memanas, Musk menekankan satu hal: para pemimpin industri perlu mengesampingkan perbedaan. Baginya, dialog terbuka antarpengembang tetap diperlukan agar kemajuan AI tidak berjalan tanpa perhatian serius terhadap keselamatan manusia.Usulan konkret yang dilontarkan Musk adalah skema limited early access bagi laboratorium AI yang saling bersaing. Melalui pendekatan itu, pengembang dapat menguji model frontier milik satu sama lain untuk mencari potensi bahaya lebih awal.Menurut Musk, pemerintah baru perlu turun tangan jika ada pihak yang tidak bersedia mengikuti pendekatan pengamanan bersama tersebut. Gagasan ini menempatkan kolaborasi industri sebagai lapisan awal dalam isu keamanan AI.Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung: mampukah industri yang sedang berlomba tanpa henti ini benar-benar duduk bersama untuk membahas keselamatan? Persaingan yang melibatkan nilai triliunan rupiah dan masa depan peradaban bukanlah medan yang mudah untuk kerja sama.Musk sendiri mengakui bahwa ego dan konflik pribadi seharusnya tidak menghalangi pembicaraan mengenai risiko yang dapat berdampak pada peradaban manusia. Namun pengakuannya itu justru menunjukkan betapa sulitnya mewujudkan kolaborasi di tengah rivalitas yang semakin dalam.Skenario era kelimpahan yang dibayangkan Musk memang terdengar seperti utopia. Namun ia mengingatkan bahwa gambaran itu mungkin terdengar tidak masuk akal hari ini, tetapi perlu dilihat kembali dalam rentang waktu hingga 2036.Jika prediksi Musk akurat, maka dalam sepuluh tahun ke depan dunia akan berubah lebih drastis daripada seratus tahun terakhir. Uang seperti yang kita kenal mungkin tidak lagi berarti, karena robot dan AI akan memproduksi lebih banyak barang dan jasa daripada yang bisa dikonsumsi manusia.Musk bahkan pernah mengatakan bahwa AI dan robot akan melakukan "begitu banyak hal" sehingga manusia akan kehabisan pekerjaan dan "pada dasarnya kita hanya akan memberikan uang kepada orang-orang". Sebuah gambaran yang mengingatkan pada skenario universal basic income dalam skala global.Namun di balik semua optimisme tentang kelimpahan, bayangan tentang kehilangan kendali tetap menghantui. Musk memperkirakan bahwa dalam satu dekade, kemungkinan besar manusia tidak lagi menjadi kekuatan dominan di Bumi.Ini bukan pertama kalinya Musk menyuarakan kekhawatiran tentang singularitas teknologi. Namun yang membuat pernyataan kali ini berbeda adalah konteksnya: ia menyampaikannya dalam wawancara pertamanya setelah IPO SpaceX, sebagai orang terkaya di dunia yang kini memiliki kepentingan langsung dalam perlombaan AI.Posisinya sebagai pemilik xAI, Tesla, dan SpaceX memberinya perspektif unik tentang percepatan teknologi. Ia bukan hanya melihat dari luar, tetapi berada di pusat pusaran yang sama.Kritik terhadap OpenAI dan pujian untuk Anthropic juga bukan sekadar opini pribadi. Ini adalah pernyataan politik dalam industri yang sedang memperebutkan dominasi global. Setiap kata yang diucapkan Musk memiliki implikasi pada nilai pasar, kepercayaan publik, dan arah regulasi.Di tengah semua itu, satu pertanyaan tetap tidak terjawab: apakah manusia benar-benar siap menghadapi dunia di mana mesin lebih pintar dari gabungan seluruh umat manusia? Jawabannya mungkin tidak akan diketahui sampai benar-benar terjadi.Yang jelas, ramalan Musk telah memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan publik. Sebagian menganggapnya sebagai visi yang terlalu optimis, sebagian lain melihatnya sebagai peringatan yang terlalu lambat.Namun satu hal yang pasti: waktu terus berjalan, dan AI terus berkembang. Entah lima tahun atau sepuluh tahun, perubahan besar sedang dalam perjalanan. Pertanyaannya bukan lagi apakah itu akan terjadi, tetapi seberapa siap kita menghadapinya.Musk telah memilih untuk berada di dalam permainan, bukan di pinggir lapangan. Ia naik ke roket yang menurutnya memiliki 20 persen peluang meledak, tetapi ia tetap menikmati perjalanannya. Mungkin itulah metafora paling tepat untuk menggambarkan sikap manusia terhadap AI saat ini.Kita semua adalah penumpang dalam roket yang sama, dengan tingkat kendali yang semakin berkurang setiap harinya. Dan Musk, dengan segala kontroversinya, mungkin adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar menyadari ke mana arah perjalanan ini.(Wy/Red)
Bagikan: