SAMOSIR – Sejumlah petani di Desa Lumban Pinggol, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, mengeluhkan hasil produksi jagung hibrida N137 Piton yang dinilai belum sesuai dengan harapan.
Baca juga: Wali Kota Wesly dan Ketua TP PKK Ny Liswati Hadiri CFD Rangkaian Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RIKeluhan tersebut mencuat setelah petani melakukan penanaman dan melihat perkembangan tanaman hingga memasuki masa produksi. Meski secara kasat mata pertumbuhan tanaman jagung dinilai cukup baik, hasil yang diperoleh justru disebut belum sebanding dengan harapan dan biaya yang telah dikeluarkan.
Baca juga: Satgas Karya Bakti TNI Kebut Pembangunan Jembatan Beton di Desa Mehaga, Perkuat Akses Warga di Nias SelatanPetani mengungkapkan, kondisi lahan, cuaca serta pemupukan telah diupayakan dengan baik. Bahkan, pertumbuhan tanaman terlihat subur dan menjanjikan. Namun, menurut mereka, kondisi pertumbuhan tanaman yang baik belum otomatis menghasilkan produksi yang optimal.
Baca juga: Festival Tao Toba Joujou 2026 Sukses, Transaksi Digital Tembus 6 Miliar“Kami berharap ada pendampingan dan pengecekan yang jelas. Kalau hasilnya tidak sesuai harapan, tentu kami sebagai petani mengalami kerugian. Biaya pengolahan lahan, pupuk, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya cukup besar,” ujar LS, salah seorang petani, Selasa (12/8/2026).Para petani berharap Dinas Pertanian Kabupaten Samosir dapat turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi tanaman dan melakukan evaluasi terhadap lahan yang menggunakan benih N137 Piton.
Baca juga: Turnamen Mini Soccer Pangkoops TNI Habema 2026, Satukan TNI dan Masyarakat Timika Menurut petani, pemeriksaan secara langsung penting dilakukan agar persoalan tersebut tidak berhenti sebatas keluhan atau perdebatan antara petani dan pihak penyedia benih. Dengan pemeriksaan di lapangan, penyebab hasil produksi yang dinilai belum optimal dapat diketahui berdasarkan kondisi nyata dan data yang objektif.Petani juga berharap evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap hasil panen, tetapi mencakup berbagai faktor yang berpengaruh, mulai dari kualitas benih, kondisi tanah, pola tanam, pemupukan, cuaca hingga teknik budidaya.“Yang kami minta bukan menyalahkan siapa-siapa. Kami hanya ingin ada pengecekan dan solusi. Kalau memang ada faktor lain yang menyebabkan hasilnya rendah, kami ingin mengetahuinya agar ke depan tidak mengalami kerugian lagi, yang sebelumya juga belum kami tanam ,” ujar T.S.Petani pada prinsipnya tidak menolak penggunaan benih unggul. Mereka justru berharap penggunaan benih tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.Karena itu, keluhan petani Lumban Pinggol dinilai perlu segera ditindaklanjuti melalui uji lapangan dan pendampingan yang objektif. Sebab, di balik setiap hektare tanaman jagung, terdapat biaya, tenaga dan harapan petani untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.Kini, petani menunggu langkah pemerintah untuk turun langsung ke lapangan dan memberikan kepastian: apakah rendahnya hasil produksi disebabkan oleh benih, kondisi lahan, teknik budidaya, atau faktor lainnya.(Sts)
Bagikan: