Kota Bnadung – Pemerintah Kota Bandung menutup rangkaian Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) melalui Pawai Jampana yang berlangsung meriah pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus melestarikan budaya lokal.
Baca juga: Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Nataru 2026–2027Pawai yang melintasi Jalan Diponegoro hingga Jalan Merdeka dan berakhir di Balai Kota Bandung itu disambut antusias warga. Berbagai penampilan turut memeriahkan acara, di antaranya Ega Robot, Kuburan Band, dan Bungsu Bandung.
Baca juga: Kodam I/BB Ambil Langkah Tegas Dugaan Keterlibatan Oknum Prajurit TNI AD Kasus Narkotika Jenis Sabu Sabu di PekanbaruWali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pemilihan Jampana merupakan upaya menghadirkan pesta rakyat yang sederhana, meriah, dan berakar pada tradisi masyarakat.Jampana merupakan tandu hias yang dipanggul empat hingga enam orang. Setiap kelompok menampilkan ornamen dengan tema beragam, termasuk miniatur kereta api dari Dinas Perhubungan. Tandu tersebut juga diisi berbagai makanan yang dibagikan kepada masyarakat selama arak-arakan.
Baca juga: Hari Santri 2026, Farhan Ajak Pesantren Perkuat Karakter dan Peduli LingkunganMenurut Farhan, konsep karnaval ini terinspirasi dari kreativitas warga di berbagai kecamatan dalam rangkaian HJKB. Pemkot Bandung kemudian mengkurasi penampilan dari 30 kecamatan untuk ditampilkan dalam pawai.
Baca juga: Bandung Bidik Jadi Pusat Tenaga Kerja Terampil DuniaKegiatan ini juga melibatkan sejumlah institusi pendidikan, di antaranya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Taruna Nusantara.Farhan menegaskan, perayaan HJKB harus berangkat dari inisiatif masyarakat atau pendekatan
bottom-up. Dengan demikian, warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berperan aktif menampilkan identitas budaya dan potensi wilayahnya.Melalui Pawai Jampana, Pemkot Bandung berharap peringatan hari jadi kota tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan juga memperkuat kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal.(Fadly/jnl)
Bagikan: