ST. PETERSBURG -- Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memuji Vladimir Putin sebagai sosok "humanitarian" dalam pertemuan yang disiarkan televisi pada 21 Oktober 2026. Pujian itu keluar beberapa saat setelah Putin membebaskan Stephen Hubbard, warga Amerika berusia 74 tahun yang ditahan di Rusia sejak 2022.
Baca juga: Ronaldo Cetak Gol ke-980, Suporter Al Nassr Tetap Setia Meski Sedang Konflik dengan PortugalBagi Witkoff, kalimat itu mungkin sekadar bentuk kesopanan di depan tuan rumah. Namun bagi banyak kalangan di Washington, ucapan tersebut langsung memicu reaksi keras.
Baca juga: Mourinho Siap Buang Vinicius Jr dari Starting XI Real Madrid, Tottenham Siap Bayar Gila-Gilaan untuk AlvarezSeperti dikutip dari media Lansinginstitute.org, kritik datang bukan hanya dari lawan politik Trump, tetapi juga dari senator Partai Republik sendiri. Senator Thom Tillis dari Carolina Utara, misalnya, menulis di platform X dengan nada tajam. "WTF, Steve? Cari definisi 'humanitarian'," tulisnya.
Baca juga: Inggris Bantai Kroasia 7-0! Kane dan Saka Cetak Brace, Bellingham Gila AssistTillis bahkan menyarankan Witkoff kembali ke Ukraina dan bertanya langsung kepada keluarga anak-anak yang menjadi korban konflik di sana. Apakah mereka setuju dengan label tersebut.
Baca juga: Spanyol 3-1 Ceko! Lamine Yamal dan Rodri Cetak Gol, Barcelona Dominasi Lini TengahSenator John Cornyn dari Texas juga menolak label itu. Ia menilai sebutan humanitarian tidak pantas diberikan kepada Putin.Anggota Kongres Don Bacon menyebut insiden itu sebagai kesalahan diplomasi yang memalukan. Gelombang kritik ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap arah kebijakan luar negeri Trump terhadap Moskow.Pemerintahan Trump sendiri tidak tinggal diam. Wakil Presiden JD Vance memberikan pembelaan paling langsung. "Saya setuju dengan Steve Witkoff yang mengatakan hal baik kepada seseorang yang baru saja membebaskan sandera Amerika," kata Vance.Menurut Vance, apa pun sentimen di balik ucapan itu, Witkoff adalah diplomat yang tugasnya menyelesaikan pekerjaan. Trump memilih sikap yang lebih hati-hati. Ia menyarankan agar pujian itu dipahami dalam konteks sempit pembebasan Hubbard."Yah, saya kira Anda bisa mengatakannya untuk tujuan khusus itu, untuk tujuan membiarkan seorang pria yang mengira akan dipenjara seumur hidup bisa keluar," kata Trump. Namun ia menambahkan, "Saya tidak akan mengatakan apa pun ke satu arah atau yang lain."Lalu, mengapa Witkoff sampai melontarkan penilaian seperti itu? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari latar belakangnya. Witkoff bukan diplomat karier. Ia pengembang properti miliarder asal Bronx yang membangun kekayaan lewat negosiasi bisnis dan hubungan pribadi yang panjang dengan Trump.Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp33,6 triliun (Tiga Puluh Tiga Triliun Enam Ratus Miliar Rupiah), dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS. Selama puluhan tahun, keberhasilan Witkoff bergantung pada kemampuannya membangun kepercayaan, mencari titik temu, dan mencapai kompromi.Cara berpikir itu terbawa ke meja perundingan internasional. Dalam wawancara dengan Tucker Carlson pada Maret 2025, Witkoff mengaku menyukai Putin. "Saya menyukainya. Saya pikir dia jujur kepada saya," katanya saat itu. Ia bahkan menyatakan tidak menganggap Putin sebagai orang jahat.Analisis Lansing Institute menyoroti risiko dari pendekatan semacam ini. Witkoff diduga kuat terkena apa yang disebut efek halo, yakni kecenderungan menilai seseorang secara positif karena kesan baik pada satu hal ikut menular ke penilaian secara keseluruhan. Dalam kasus Putin, kesan bahwa ia lawan bicara yang sopan dan terus terang bisa menutupi kenyataan agresi dan manipulasi yang sudah banyak terdokumentasi.Kemungkinan lain juga terbuka. Bisa jadi Witkoff sengaja memuji untuk mendapatkan konsesi lebih besar dari Moskow. Namun tanpa akses ke ruang negosiasi tertutup, sulit memastikan apakah itu keyakinan tulus atau taktik diplomatik. Yang jelas, pernyataan Oktober 2026 bukan insiden pertama, melainkan lanjutan dari gaya diplomasi personal yang konsisten.Persoalan sebenarnya bukan soal tulus atau tidak. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah cara bernegosiasi ala bisnis bisa dipakai untuk konflik geopolitik. Dalam jual beli properti, anggapan bahwa kedua pihak sama-sama mencari keuntungan biasanya masuk akal. Kepercayaan personal mempermudah kesepakatan, dan kepentingan ekonomi mendorong kompromi.Namun berhadapan dengan Rusia jauh berbeda. Tujuan Putin tidak sekadar mencari keuntungan yang bisa ditukar. Ada kontrol wilayah, perluasan pengaruh, upaya melemahkan NATO, dan pembatasan kedaulatan Ukraina.Hal-hal seperti itu tidak bisa dinegosiasikan seperti kesepakatan dagang. Di sinilah letak risikonya. Witkoff bisa saja keliru menerapkan pola pikir bisnis pada konflik yang salah satu pihaknya justru menganggap konfrontasi berkelanjutan lebih menguntungkan daripada berdamai.Kontroversi ini pun bukan sekadar perang kata-kata di media sosial. Ucapan itu menyentuh langsung posisi tawar Amerika Serikat dalam perundingan soal Ukraina. Jika dugaan soal kedekatan Witkoff dengan Putin benar, kemampuan Putin menciptakan kesan personal yang menyenangkan bisa melemahkan posisi Washington.Kesan bahwa Rusia selalu ingin berdamai juga bertentangan dengan fakta di lapangan. Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.Di sisi lain, pembebasan Hubbard adalah hasil nyata yang tidak bisa diabaikan. Pemerintahan Trump menyebutnya sebagai keberhasilan diplomatik. Keluarga Hubbard sempat bercerita tentang kondisi penahanan yang keras, termasuk perlakuan buruk dan kekurangan makanan.Namun keberhasilan kemanusiaan itu tidak otomatis membenarkan sebutan "humanitarian" untuk Putin. Putin sendiri memiliki surat perintah penangkapan dari Mahkamah Kriminal Internasional terkait dugaan kejahatan perang di Ukraina.Sampai sekarang, belum ada penjelasan resmi dari Witkoff atau Gedung Putih yang menjawab kritik itu secara spesifik. Publik belum tahu apakah pujian tersebut murni taktik, keyakinan pribadi, atau campuran keduanya. Yang tersisa adalah rekam jejak pernyataan yang konsisten dan pertanyaan terbuka: sejauh mana kepercayaan personal layak dijadikan pegangan saat berhadapan dengan pemimpin yang agresinya sudah terdokumentasi luas.(Drt/Red)
Bagikan: