HEBRON -- Dua tentara Israel tewas dalam serangan bersenjata di Tepi Barat pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026. Insiden di dekat persimpangan Yehuda, luar kota Hebron, itu juga menewaskan dua pria Palestina yang dituduh sebagai penyerang.
Baca juga: Ronaldo Cetak Gol ke-980, Suporter Al Nassr Tetap Setia Meski Sedang Konflik dengan PortugalMiliter Israel mengidentifikasi korban sebagai Sersan Staf Ron Yonatan Roytman, 23 tahun, dan Sersan Yuval Shai Svilem, 20 tahun. Tiga tentara lain mengalami luka ringan dalam baku tembak yang berlangsung sekitar 20 menit.
Baca juga: Mourinho Siap Buang Vinicius Jr dari Starting XI Real Madrid, Tottenham Siap Bayar Gila-Gilaan untuk AlvarezSeperti dikutip dari media Bbc.com, insiden ini terjadi hanya empat hari sebelum pemilihan parlemen Israel. Pemilu tersebut menjadi ujian bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang tengah mencalonkan diri untuk masa jabatan berikutnya.
Baca juga: Inggris Bantai Kroasia 7-0! Kane dan Saka Cetak Brace, Bellingham Gila AssistMiliter Israel menyatakan pasukannya berhasil menggagalkan apa yang disebut sebagai rencana serangan terhadap warga sipil Israel. Dua penyerang disebut membawa senapan M16 dan pistol, serta berasal dari Hebron.
Baca juga: Spanyol 3-1 Ceko! Lamine Yamal dan Rodri Cetak Gol, Barcelona Dominasi Lini TengahNetanyahu langsung menggelar rapat darurat kabinet keamanan setelah kejadian. Ia menuding Hamas berada di balik serangan, meski tidak merinci bukti yang mendasari tuduhan tersebut."Saya memuji keberanian tentara kami yang bertindak dengan tekad dan mencegah apa yang bisa menjadi serangan besar," kata Netanyahu dalam pernyataannya.Ia juga menginstruksikan pasukan keamanan untuk segera mengepung Hebron dan bersiap menutup seluruh wilayah Tepi Barat mulai Jumat. Dalam kunjungan ke lokasi kejadian, Netanyahu menyatakan Israel akan membalas dengan operasi besar-besaran di lingkungan tempat para penyerang tinggal."Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan masuk dari rumah ke rumah, kami juga akan menyita senjata di sana, dan seluruh infrastruktur teror akan ditangani dan dihancurkan," ujarnya.Namun, belakangan Netanyahu tampak mengurangi cakupan rencana penutupan total tersebut. Ia menyebut akan mempertimbangkan pembatasan di sekitar Hebron dan Halhul, yang mungkin diperluas ke wilayah lain.Sejumlah menteri sayap kanan di kabinet Netanyahu mendorong langkah yang lebih keras. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menilai serangan itu menunjukkan Israel perlu membatasi kebebasan bergerak warga Palestina di Tepi Barat.Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyerukan kampanye militer menyeluruh untuk membubarkan Otoritas Palestina dan melucuti senjata di Tepi Barat. Seruan itu muncul meski hingga Jumat belum ada bukti yang menghubungkan Otoritas Palestina dengan para penyerang.Hamas, kelompok militan yang berbasis di Gaza, memuji insiden tersebut sebagai "operasi heroik yang luar biasa" dan menyampaikan belasungkawa bagi dua pria yang tewas. Hamas tidak mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.Dalam pernyataannya, Hamas menyebut serangan tersebut sebagai "respons alami dan sah terhadap kejahatan dan serangan brutal yang berkelanjutan terhadap rakyat kami." Pernyataan itu merujuk pada kekerasan yang telah lama mewarnai hubungan Israel-Palestina di Tepi Barat.Pasca-insiden, militer Israel bersama badan keamanan dan intelijen melakukan puluhan operasi di Tepi Barat. Mereka menangkap puluhan orang, termasuk mereka yang disebut berafiliasi dengan Hamas dan Jihad Islam.Pihak militer juga menyatakan menemukan sejumlah senjata, termasuk senapan M16 dan pistol mitraliur. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir mengatakan amunisi dalam jumlah besar ditemukan di kendaraan yang digunakan para penyerang."Amunisi ini dimaksudkan untuk digunakan dalam serangan berskala lebih besar," kata Zamir, seperti dilaporkan sejumlah media internasional.Di Hebron, operasi militer Israel bergerak cepat. Beberapa jam setelah serangan, pasukan mulai melakukan pembongkaran bangunan dan meminta warga meninggalkan kawasan Farsh al-Hawa.Dalam rekaman yang diperoleh CNN, seorang tentara Israel terdengar memberi ultimatum kepada penghuni kompleks hunian. "Anda punya waktu lima menit untuk mengungsi," ucapnya, seperti dikutip dari lansinginstitute.org.Netanyahu menyebut pola operasi di Hebron akan meniru pendekatan yang pernah diterapkan di kamp pengungsi Jenin, Tulkarm, Nur Shams, dan Al-Far'a pada awal 2025. Pendekatan itu sebelumnya mengakibatkan ribuan warga Palestina mengungsi dan sejumlah lingkungan kosong.Serangan Jumat itu bukan insiden pertama dalam sebulan terakhir. Penutupan wilayah Tepi Barat oleh Israel diketahui telah menjadi langkah yang semakin sering diambil, menandai meningkatnya ketegangan menjelang pemilu.Dua penyerang diidentifikasi sebagai Mohammad Jaaba dan Firas Jaaba, menurut laporan Palestina dan pejabat keamanan Israel. Keduanya berusia 27 tahun dan berasal dari keluarga yang sama, meski hubungan persisnya belum jelas.Seorang warga Palestina lain juga dilaporkan mengalami luka kritis akibat tembakan tentara Israel di Kota Dura, sebelah barat daya Hebron. Insiden terpisah itu terjadi saat pasukan Israel menembaki kendaraan yang dikemudikan korban di Bundaran Al-Alam.Kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan korban terkena tembakan di bagian dada dan dievakuasi ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Pasukan Israel sebelumnya menggerebek Dura dan mendirikan pos pemeriksaan militer di kawasan tersebut.Situasi di Tepi Barat memang memanas jauh sebelum insiden Jumat. Pemerintah Israel telah memperingatkan potensi serangan menjelang pemilu, dan Netanyahu menyatakan Hamas bisa mencoba memengaruhi hasil pemungutan suara.Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti yang dipublikasikan secara terbuka. Yang tersisa adalah ketegangan yang saling menumpuk: antara kebutuhan keamanan, tekanan politik menjelang pemilu, dan dampak kemanusiaan yang kembali menimpa warga sipil di Tepi Barat.(Drt/Red)
Bagikan: