AS -- Miopia, atau kebutuhan akan kacamata minus untuk memfokuskan atau melihat benda-benda di kejauhan, semakin sering dijumpai dalam beberapa dekade terakhir. Beberapa orang bahkan menganggap miopi, yang juga dikenal sebagai rabun jauh, sebagai sebuah epidemi.
Baca juga: Wamenkop RI Tinjau Koperasi Desa Merah Putih Mangga Dua, 96 Persen Progres Pembangunan TercapaiPara peneliti optometri memperkirakan bahwa sekitar setengah dari populasi di dunia akan membutuhkan lensa untuk mengatasi miopi pada tahun 2050 jika angka saat ini terus berlanjut naik dari 23% pada tahun 2000 dan kurang dari 10% di beberapa negara.
Baca juga: Perawatan Kecantikan Dengan Alat dari Korea Hadir di INTAN DERMA BEAUTY CimahiBiaya perawatan kesehatan yang terkait sangat besar. Di Amerika Serikat saja, pengeluaran untuk lensa korektif, tes mata, dan biaya terkait bisa mencapai $7,2 juta (Sekitar 114 Juta Rupiah) per tahun.
Baca juga: PILAR WELLSKIN dan Yayasan Cipta Wellness Gelar "Wellness Tourism Appreciation Night 2025"Apa yang menjelaskan pertumbuhan miopia yang cepat?
Baca juga: IGX 2025 Sukses Digelar di Bandung: Merajut Kolaborasi Teknologi, Budaya, dan KreativitasSaya adalah seorang ilmuwan optik yang telah mempelajari persepsi visual dan cacat persepsi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama mari kita bahas apa yang menyebabkan miopi, dan bagaimana menguranginya.Kendati memiliki dua orang tua rabun jauh berarti Anda lebih mungkin mengalami rabun jauh, namun tidak ada satu pun gen yang menyebabkan rabun jauh. Itu artinya, penyebab miopia lebih disebabkan oleh perilaku daripada genetik.Para dokter mata telah belajar banyak tentang perkembangan miopia dengan mempelajari perkembangan visual pada anak ayam. Mereka melakukannya dengan memakaikan helm kecil pada anak ayam. Lensa pada bagian depan helm menutupi mata anak ayam dan disesuaikan untuk mempengaruhi seberapa jauh mereka melihat.Sama seperti pada manusia, jika input visual terganggu, mata anak ayam akan tumbuh terlalu besar, yang mengakibatkan miopia. Dan ini bersifat progresif. Keburaman menyebabkan pembesaran bola mata, yang menyebabkan lebih banyak lagi keburaman, yang membuat mata tumbuh lebih besar lagi, dan seterusnya.Dua penelitian terbaru yang menampilkan survei ekstensif terhadap anak-anak dan orang tua mereka memberikan dukungan kuat untuk gagasan bahwa penggerak penting dari peningkatan miopia adalah bahwa orang menghabiskan lebih banyak waktu untuk fokus pada objek yang berada di depan mata kita, baik layar, buku, atau papan gambar. Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk fokus pada sesuatu yang berada dalam jarak dekat dengan wajah kita, yang disebut sebagai "dekat dengan pekerjaan", maka semakin besar pula kemungkinan kita mengalami miopia.Jadi, meskipun banyak orang yang menyalahkan teknologi baru seperti ponsel pintar dan terlalu banyak "waktu di depan perangkat" sebagai penyebab kerusakan mata kita, sebenarnya kegiatan yang sama berharganya dengan membaca buku yang bagus pun bisa memengaruhi penglihatan Anda.Penelitian lain menunjukkan bahwa pertumbuhan mata yang tidak wajar ini dapat terganggu oleh sinar matahari.Sebuah penelitian pada tahun 2022, misalnya, menemukan bahwa tingkat miopi lebih tinggi empat kali lipat pada anak-anak yang tidak menghabiskan banyak waktu di luar ruangan misalnya, sekali atau dua kali seminggu dibandingkan dengan mereka yang berada di luar ruangan setiap hari. Pada saat yang sama, anak-anak yang menghabiskan lebih dari tiga jam sehari saat tidak berada di sekolah untuk membaca atau melihat layar dari dekat, empat kali lebih mungkin mengalami miopia dibandingkan dengan mereka yang menghabiskan waktu satu jam atau kurang.Dalam makalah lain, dari tahun 2012, para peneliti melakukan meta-analisis terhadap tujuh penelitian yang membandingkan durasi waktu yang dihabiskan di luar ruangan dengan kejadian miopia. Mereka juga menemukan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan di luar ruangan dikaitkan dengan insiden dan perkembangan miopia yang lebih rendah. Kemungkinan terjadinya miopia turun 2% untuk setiap jam yang dihabiskan di luar ruangan per minggu.Peneliti lain telah melaporkan efek yang sama dan berpendapat bahwa lebih banyak waktu di luar ruangan dan perubahan pada sekolah usia dini dapat mengurangi tingkat prevalensi miopia.Apa yang mendasari epidemi ini?
Hal itu masih belum menjelaskan mengapa epidemi ini meningkat dengan cepat.Secara global, sebagian besar dari hal ini disebabkan oleh perkembangan pesat negara-negara di Asia Timur selama 50 tahun terakhir. Pada masa itu, anak muda mulai menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kelas untuk membaca dan fokus pada objek lain yang sangat dekat dengan mata mereka dan lebih sedikit waktu di luar ruangan.Hal ini juga yang diamati oleh para peneliti di Arktik Amerika Utara setelah Perang Dunia II, ketika sekolah diwajibkan bagi penduduk lokal. Tingkat miopia untuk suku Inuit meningkat dari satu digit sebelum tahun 1950-an menjadi lebih dari 70% pada tahun 1970-an ketika semua anak mulai bersekolah untuk pertama kalinya.Negara-negara di Eropa Barat, Amerika Utara dan Australia telah menunjukkan peningkatan angka miopi dalam beberapa tahun terakhir, namun tidak ada yang mendekati apa yang telah diamati baru-baru ini di Cina, Jepang, Singapura dan beberapa negara Asia Timur lainnya. Dua faktor utama yang diidentifikasi sebagai penyebab peningkatan miopia adalah peningkatan aktivitas membaca dan aktivitas lain yang membutuhkan fokus pada objek yang dekat dengan mata dan pengurangan waktu yang dihabiskan di luar ruangan.Lonjakan kasus miopia kemungkinan akan memiliki efek terburuknya 40 atau 50 tahun dari sekarang karena dibutuhkan waktu bagi orang-orang muda yang didiagnosis rabun jauh saat ini untuk mengalami masalah penglihatan yang paling parah.Berita baiknya, hanya dengan beberapa menit sehari menggunakan kacamata atau lensa kontak yang dapat mengatasi rabun jauh bisa menghentikan perkembangan miopia, sehingga pemeriksaan mata dan pengoreksian penglihatan dini sangat penting untuk membatasi perkembangan miopia. Pemeriksaan mata untuk anak-anak diwajibkan di beberapa negara, seperti Inggris dan sekarang Cina, serta sebagian besar negara bagian AS.Namun, orang dengan miopia tinggi memiliki risiko kebutaan dan masalah mata berat lainnya, seperti ablasio retina, di mana retina terlepas dari bagian belakang mata. Kemungkinan terjadinya degenerasi makula akibat miopia meningkat 40% untuk setiap dioptri miopia. Dioptri adalah unit pengukuran yang digunakan dalam resep mata.Namun, tampaknya ada dua cara yang pasti untuk mengimbangi atau menunda efek ini yakni Kurangi waktu untuk fokus pada objek yang dekat dengan wajah Anda, seperti buku dan smartphone, dan habiskan lebih banyak waktu di luar ruangan dengan cahaya alami yang terang. Mengingat yang pertama adalah saran yang sulit dilakukan di zaman modern ini, maka hal terbaik berikutnya adalah sering-seringlah beristirahat atau mungkin menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dan berjemur di bawah sinar matahari. (Why/sf)
Bagikan: