MEDAN -- Di tengah perubahan pola hidup masyarakat yang semakin terdigitalisasi, joting atau marjoting perlahan bergeser dari ruang-ruang terbuka kampung ke ingatan kolektif yang makin jarang dipraktikkan. Kesenian tradisional Batak Toba ini dahulu menjadi bagian dari kehidupan komunal yang hidup di lapangan terbuka, terutama setelah masa panen atau pada malam purnama.
Baca juga: Wali Kota Wesly Hadiri dan Apresiasi Konser Bertabur Bintang DPD PASU Kota Pematangsiantar Seperti dilansir dari media Etnis.id, dalam praktiknya, joting bukan sekadar hiburan, melainkan rangkaian ekspresi budaya yang menggabungkan seni vokal, puisi tradisional (umpasa), doa (tangiang), hingga gerakan tubuh yang dilakukan secara berkelompok. Dua kelompok yang terdiri dari laki-laki dan perempuan saling berhadapan dalam permainan berbalas ungkapan, yang sering kali berisi sindiran ringan, pujian, hingga ungkapan perasaan yang dibungkus dalam bentuk puitis.
Baca juga: Pemko Pematangsiantar Gelar Pertemuan dengan Pedagang Pasar Dwikora, Langkah Cepat Pasca BencanaDi tengah interaksi itu, setiap kelompok biasanya terdiri dari sedikitnya lima orang atau lebih yang bergerak maju-mundur sambil bergandengan tangan. Pola gerak dan vokal tersebut membentuk ritme kebersamaan yang menjadi ciri khas marjoting, sekaligus memperlihatkan bagaimana seni tradisi ini tumbuh sebagai ruang sosial yang cair dan inklusif.
Baca juga: Wali Kota Wesly Pukul Gonrang Tanda Dibukanya FASI XIII Tingkat Provinsi Sumut Secara budaya, joting memiliki fungsi yang lebih luas dari sekadar hiburan. Kesenian ini menjadi sarana pendidikan moral, etika, serta penguat hubungan sosial dalam masyarakat Batak Toba. Melalui ungkapan-ungkapan berbalas, nilai tentang cinta, persahabatan, dan keharmonisan sosial disampaikan secara tidak langsung namun mengikat secara emosional.
Baca juga: Pewarta Polrestabes Medan Jalin Silaturahmi dengan Pengusaha di KisaranNamun, dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan joting semakin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Perubahan gaya hidup, dominasi hiburan digital, serta berkurangnya ruang interaksi komunal menjadi faktor yang ikut mendorong menurunnya praktik kesenian ini di kalangan generasi muda.Gunawan Pane dalam kajian yang dirujuk pada 2017 mencatat bahwa joting sudah menunjukkan tanda-tanda kelangkaan dalam praktik sosial masyarakat Batak Toba. Catatan tersebut memperkuat gambaran bahwa kesenian ini tidak lagi menjadi bagian utama dari ekspresi budaya sehari-hari, melainkan mulai bergeser ke ruang dokumentasi dan kajian akademis.Di tengah kondisi tersebut, joting tetap dikenal sebagai bagian dari kekayaan kesenian Batak Toba yang berbeda dari bentuk pertunjukan lain seperti tortor atau gondang. Jika tortor lebih sering hadir dalam konteks ritual adat, maka joting lebih bersifat interaktif, spontan, dan dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.Dalam praktiknya, unsur umpasa dan tangiang menjadi inti dari interaksi verbal dalam joting. Umpasa berfungsi sebagai pantun atau ungkapan puitis, sementara tangiang membawa dimensi doa atau harapan yang disisipkan dalam bentuk bahasa tradisional. Kombinasi keduanya menjadikan joting tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga media refleksi sosial.Seiring waktu, perubahan struktur sosial masyarakat turut memengaruhi ruang hidup kesenian ini. Modernisasi dan urbanisasi membuat ruang lapangan terbuka yang dahulu menjadi tempat joting berlangsung semakin jarang digunakan untuk kegiatan komunal. Interaksi sosial yang dulunya terjadi secara langsung kini banyak berpindah ke ruang digital.Dalam banyak komunitas, permainan dan hiburan tradisional seperti joting mulai tergantikan oleh perangkat digital yang menawarkan hiburan instan. Pergeseran ini berdampak pada berkurangnya kesempatan generasi muda untuk mengenal langsung praktik budaya lisan yang bersifat kolektif dan interaktif.Meski demikian, joting belum sepenuhnya hilang. Sejumlah komunitas adat dan kelompok budaya masih berupaya menjaga keberlanjutannya, termasuk melalui kelompok naposo bulung dalam komunitas Parmalim. Upaya ini dilakukan melalui pertunjukan terbatas dan kegiatan budaya yang mencoba menghadirkan kembali praktik tradisional tersebut dalam konteks yang lebih terstruktur.Namun, upaya pelestarian tersebut masih menghadapi tantangan keterbatasan ruang dan jangkauan. Kesenian ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pendidikan formal maupun agenda pariwisata budaya secara luas, sehingga keberadaannya lebih banyak bertumpu pada inisiatif komunitas lokal.Secara struktural, joting juga mencerminkan pola interaksi sosial yang egaliter. Dalam permainan ini, laki-laki dan perempuan berada dalam posisi yang setara sebagai pelaku dialog budaya. Pola berbalas ungkapan tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga sarana membangun relasi sosial yang harmonis.Dalam konteks warisan budaya takbenda, joting menunjukkan karakteristik yang sangat bergantung pada transmisi lisan dan praktik langsung. Tanpa dokumentasi dan regenerasi yang berkelanjutan, bentuk kesenian seperti ini rentan mengalami penyusutan dalam praktik sosialnya.Di sisi lain, potensi joting sebagai daya tarik budaya juga masih terbuka, terutama dalam konteks wisata budaya. Jika dikemas secara tepat, kesenian ini dapat menjadi bagian dari atraksi edukatif yang memperkenalkan nilai-nilai Batak Toba kepada publik yang lebih luas, termasuk wisatawan domestik maupun mancanegara.Namun, pengembangan tersebut membutuhkan pendekatan yang sensitif terhadap konteks budaya aslinya. Transformasi ke ranah pertunjukan tidak boleh menghilangkan fungsi sosial dan nilai edukatif yang melekat pada joting sebagai tradisi komunal.Di tengah diskusi pelestarian budaya, joting juga menjadi contoh bagaimana warisan lisan menghadapi tantangan besar di era digital. Ketika ruang interaksi langsung semakin terbatas, keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada sejauh mana generasi muda terlibat dalam proses pewarisan budaya.Dalam beberapa catatan budaya, joting digambarkan sebagai ruang yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik tanpa formalitas. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disampaikan melalui pengalaman langsung, bukan melalui teks tertulis, sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada praktik berulang.Hingga kini, belum ada data pasti mengenai jumlah komunitas yang masih secara aktif mempraktikkan joting secara rutin. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaannya lebih banyak bertahan dalam bentuk sporadis di acara adat tertentu atau kegiatan budaya yang bersifat khusus.Di tengah tantangan tersebut, dokumentasi menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga keberlanjutan joting. Rekaman audiovisual, penelitian akademis, serta integrasi dalam kurikulum lokal dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru.Jika upaya tersebut diperkuat, joting masih memiliki peluang untuk tetap hidup, meski dalam bentuk yang berbeda dari masa lalu. Adaptasi ke ruang digital, seperti dokumentasi video atau festival budaya, dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan tanpa menghilangkan nilai dasarnya.Namun, jika tidak ada kesinambungan antara praktik, dokumentasi, dan regenerasi, joting berisiko semakin menyempit menjadi sekadar arsip budaya. Dalam skenario tersebut, ia tetap dikenang sebagai warisan, tetapi tidak lagi hidup sebagai bagian dari praktik sosial sehari-hari.Dalam lanskap budaya Batak Toba yang kaya, joting tetap menempati posisi penting sebagai simbol interaksi sosial yang hangat dan egaliter. Keberadaannya mencerminkan bagaimana masyarakat membangun kebersamaan melalui seni yang sederhana, namun sarat makna.Pada akhirnya, masa depan joting akan sangat ditentukan oleh kemampuan berbagai pihak—komunitas adat, generasi muda, akademisi, dan lembaga budaya—untuk menjaga ruang hidupnya di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.(Wy/Red)
Bagikan: