JAKARTA -- Tekanan keuangan yang membelit emiten pengolahan udang PT Panca Mitra Multiperdana Tbk kian mengeras setelah total kewajiban perusahaan dilaporkan menembus lebih dari Rp2 triliun.
Baca juga: Parna Raya Bangun Pabrik Nitrat Terintegrasi Rp4–4,9 Triliun di Gresik, Perkuat Kemandirian Industri Kimia NasionalPerusahaan yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep itu kini berada dalam fase restrukturisasi utang ke sejumlah bank dan lembaga pembiayaan.
Baca juga: Ketika Harga Minyak Dunia Turun, Indonesia Mendapat Napas BaruBerdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada Jumat, 3 Juli 2026, PMMP mencatat kewajiban besar kepada berbagai kreditur utama.
Baca juga: Danantara: Penguatan IHSG Jadi Bukti Kepercayaan Investor terhadap Fundamental Ekonomi IndonesiaDi antaranya Bank Permata dengan eksposur sekitar US$53,12 juta atau setara Rp929,6 miliar, serta fasilitas tambahan Rp5,49 miliar.
Baca juga: GAPERKASINDO Dorong Revolusi Hijau, Indonesia Ditargetkan Jadi Produsen Pupuk Hayati dan Organik Terbesar di DuniaSelain itu, utang juga tercatat pada Bank Central Asia senilai sekitar US$40,29 juta atau Rp705 miliar.Kewajiban lainnya mencakup pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebesar US$30,71 juta atau Rp537,4 miliar, serta SMBC Indonesia senilai US$22,80 juta atau sekitar Rp400 miliar.Dua kreditur lain yang turut tercatat adalah Bank Maspion Indonesia dan Bank Resona Perdania, yang masing-masing memiliki eksposur jutaan dolar AS terhadap perusahaan.Seluruh kewajiban tersebut belum termasuk bunga pinjaman yang masih berjalan.Di tengah beban utang yang membengkak, manajemen PMMP mengakui keterbatasan modal kerja telah mengganggu operasional perusahaan.Saat ini, hanya satu pabrik di Situbondo yang masih beroperasi, sementara sebagian kebutuhan ekspor dipenuhi dengan membeli produk dari pihak lain.Kebutuhan modal kerja tambahan disebut mencapai sekitar US$15 juta atau setara Rp269 miliar agar operasional kembali normal.Tekanan itu juga berdampak pada tenaga kerja, dengan adanya pemutusan hubungan kerja terhadap puluhan staf dan pekerja harian serta sejumlah pengunduran diri karyawan.Di sisi lain, perusahaan masih mencatat langkah penyelematan melalui restrukturisasi utang kepada kreditur serta rencana penguatan modal.Namun, di saat yang sama, laporan keuangan menunjukkan penurunan kinerja yang signifikan dalam beberapa periode terakhir, termasuk peralihan dari laba menjadi rugi besar.Kepemilikan saham PMMP juga menjadi sorotan karena sebagian digenggam oleh PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan yang didirikan Kaesang Pangarep dengan porsi sekitar 7,27 persen.Posisi ini membuat dinamika keuangan PMMP ikut menjadi perhatian publik, seiring meningkatnya eksposur utang dan tekanan operasional perusahaan.(Wy/Red)
Bagikan: