LAKE TITICACA -- Di dasar perairan Danau Titicaca, sesuatu yang tak sepenuhnya hilang masih terus berbicara. Bukan dalam bentuk suara, melainkan artefak yang terkubur ratusan tahun di antara lumpur, batu, dan sisa ritual yang perlahan kembali ke permukaan sejarah.
Baca juga: Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara Tidak Mengorbankan BIJB KertajatiPada 2013, sebuah ekspedisi bawah air mulai memetakan sebuah area di Khoa Reef, dekat Pulau Matahari di Bolivia. Namun temuan yang benar-benar mengubah cara pandang tentang sejarah Andes baru terungkap bertahun-tahun kemudian, pada 2019.
Baca juga: Angkot Pintar Bandung Lulus Uji Setahun, tapi Subsidi Besar Mulai DipertanyakanDi lokasi itu, para peneliti menemukan bukti ritual persembahan yang tidak muncul secara acak di danau. Justru sebaliknya, benda-benda tersebut tampak sengaja ditenggelamkan dalam sebuah rangkaian upacara yang terstruktur.
Baca juga: Reaktivasi Bandara Husein 17 September: Jet Kembali ke Bandung, Apa Dampaknya?Peradaban yang meninggalkan jejak itu dikenal sebagai Tiwanaku, sebuah masyarakat yang berkembang jauh sebelum dominasi Inka di Andes. Mereka diperkirakan hidup antara 500 hingga 1100 Masehi, dan meski jumlah populasinya relatif kecil, pengaruh simbolik dan ritualnya menjangkau wilayah yang luas.Di dasar danau, para peneliti menemukan mangkuk upacara, pembakar dupa berbentuk puma, serta ornamen dari emas, cangkang, dan batu. Jejak arang yang menempel pada beberapa artefak memperkuat dugaan bahwa benda-benda itu merupakan bagian dari ritual yang disengaja.
Baca juga: Kasus Yuvita Tri Rezeki di Bandung: Ketika Kekerasan Tidak Datang Sekali, Tapi Perlahan Menguasai HidupSimbol puma yang muncul berulang dalam temuan itu diduga memiliki makna religius penting dalam kosmologi Tiwanaku. Bersama motif wajah bercahaya pada medali emas, simbol tersebut diyakini terhubung dengan figur ilahi utama dalam kepercayaan mereka.Yang lebih mencolok, beberapa artefak tampak tidak sekadar dibuang ke danau, melainkan ditempatkan dengan cara yang menunjukkan pola ritual. Keberadaan jangkar di sekitar lokasi temuan mengarah pada kemungkinan bahwa persembahan dilakukan dari atas perahu dalam upacara terkontrol.Di antara sisa-sisa alam yang ikut terendapkan secara alami, terdapat satu temuan yang berbeda. Tulang empat anak llama ditemukan dalam kondisi yang menunjukkan adanya pengorbanan hewan di lokasi tersebut.Rangkaian temuan ini memperlihatkan bahwa Danau Titicaca bukan sekadar lanskap alam bagi masyarakat Tiwanaku, tetapi ruang sakral yang menjadi pusat interaksi antara manusia, kekuasaan, dan keyakinan. Ritual yang berlangsung di sana mencerminkan struktur sosial yang telah mulai terbentuk dan menguat.Dalam perkembangan temuan lanjutan, para peneliti juga mengidentifikasi sebuah struktur besar di wilayah Palaspata, sekitar 215 kilometer dari pusat utama Tiwanaku. Bangunan tersebut diduga menjadi titik strategis yang menghubungkan jalur perdagangan dan sumber daya penting di kawasan Andes.Jejak Tiwanaku kini tidak lagi hanya tersisa sebagai reruntuhan, tetapi sebagai potongan narasi yang perlahan disusun ulang dari dasar danau hingga puncak pegunungan. Ia menunjukkan bahwa jauh sebelum Inka membangun imperium besar, sudah ada peradaban yang membangun dunia simboliknya di tengah lanskap ekstrem Andes.(Wy/Red)
Bagikan: