JAKARTA -- Selama lebih dari tiga abad, nama Colin Maclaurin berdiri kokoh sebagai profesor termuda dalam sejarah. Matematikawan asal Skotlandia itu meraih gelar profesor di usia 19 tahun pada tahun 1717, sebuah rekor yang tak tergoyahkan selama 306 tahun lamanya.
Baca juga: Pemprov Jabar Sampaikan Pesan Untuk Siswa DI MPLSNamun pada Jumat, 31 Juli 2026, dunia dikejutkan oleh kabar bahwa rekor kuno itu akhirnya runtuh. Seorang remaja bernama Nathan Thomas berhasil memecahkan rekor tersebut dengan selisih usia yang sangat tipis namun cukup untuk mengubah buku sejarah.
Baca juga: MPLS TK Santa Theresia Cimahi 2026 Jadi Awal Perjalanan Anak Hebat 'Grow to Shine in Veritas'Thomas berusia 18 tahun dan 346 hari ketika resmi menjadi profesor termuda dunia. Ia bergabung dengan Miami Dade College di Amerika Serikat sebagai profesor luar biasa di bidang teknik pada Agustus 2023 lalu.
Baca juga: Di Balik 90 Siswa Dicoret dari SPMB Bandung: Bukan Sekadar Kecurangan, Ada Sistem yang Membuka CelahRekor Maclaurin yang bertahan selama lebih dari tiga abad itu kini harus rela tergeser. Bahkan Thomas tercatat 16 hari lebih muda dari Alia Sabur, profesor perempuan termuda dunia yang meraih gelarnya pada 2008 di usia 18 tahun dan 362 hari.
Baca juga: Klarifikasi 60 Ribu Kursi PTN Kosong, Antara Angka, Persepsi, dan Masalah Akses Pendidikan TinggiKisah Thomas bukanlah sekadar tentang angka dan rekor semata. Di balik gelar profesor yang diraihnya sebelum genap berusia 19 tahun, terdapat perjalanan hidup yang tidak biasa, mulai dari homeschooling, keliling dunia, hingga kuliah ganda di usia belia.Anak dari pasangan insinyur ini mengembangkan minat terhadap sains, teknologi, teknik, dan matematika sejak usia dini. Ibunya memainkan peran penting dalam membentuk cara berpikir Thomas terhadap topik-topik rumit."Ibu punya cara untuk membuat hal-hal terasa sederhana bahkan ketika sebenarnya rumit," ujar Thomas mengenang peran sang ibu dalam perjalanan pendidikannya.Sejak usia lima tahun, Thomas menjalani pendidikan homeschooling. Keluarganya mengubah perjalanan ke lebih dari 20 negara menjadi kesempatan belajar dengan memanfaatkan museum, situs bersejarah, dan tempat-tempat umum sebagai ruang kelas.Matematika adalah subjek pertama yang langsung terkoneksi dengannya, yang memicu kecintaannya pada STEM. Pada usia 10 tahun, ia sudah mengikuti kuliah ganda di Miami Dade College.Empat tahun kemudian, di usia 14 tahun, Thomas meraih gelar sarjana muda matematika. Ia menjadi lulusan termuda dalam sejarah kampus tersebut.Namun rekor tersebut hanya bertahan hingga April 2025, ketika adiknya, Noah, memecahkannya dengan lulus tiga bulan lebih muda. Persaingan sehat antar saudara ini justru menjadi bukti bahwa lingkungan keluarga yang mendukung dapat melahirkan lebih dari satu jenius.Thomas tidak berhenti di situ. Ia menyelesaikan gelar sarjana dan magister teknik elektro dengan predikat with honors dari Florida International University sebelum usianya menginjak 19 tahun.Pada Agustus 2023, ia kembali ke Miami Dade College, bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai profesor luar biasa di bidang teknik. Langkah ini menjadikannya profesor termuda dalam sejarah institusi tersebut.Dekan School of Engineering, Technology & Design, Manny Perez, tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya. "Saya bangga memilikinya sebagai bagian dari staf kami," kata Perez.Kehadiran Thomas di ruang kelas menciptakan dinamika yang unik. Mahasiswa yang lebih muda sering takjub karena profesor mereka seusia, sementara mahasiswa yang lebih tua terkadang bergurau bahwa usia Thomas cukup muda untuk menjadi anak mereka.Meski menghadapi situasi yang tidak biasa, Thomas tidak merasa terintimidasi. Baginya, mengajar mahasiswa yang usianya hampir sebaya bukanlah kendala."Begitu di ruang kelas, semua orang ada di sana dengan alasan yang sama, yaitu belajar," ungkapnya kepada Guinness World Records."Faktor usia sebenarnya tidak berpengaruh. Saya hanya fokus menjalankan tugas dengan baik dan membantu mahasiswa dengan cara apa pun yang saya bisa. Jika seseorang bersedia berusaha keras, itu lebih dari cukup," imbuhnya.Thomas menyusun metode perkuliahannya secara kolaboratif. Ia mengatakan, bagian paling berharga dari mengajar adalah melihat mahasiswa memahami konsep yang awalnya dianggap sulit.Saat ini, Thomas mengajar secara daring sambil melanjutkan kuliah hukum di University of Miami School of Law. Ia berencana mengambil spesialisasi hukum kekayaan intelektual dengan fokus pada bidang terkait STEM.Di luar kelas dan kewajiban akademisnya, Thomas adalah remaja biasa dengan beragam hobi. Ia gemar bermain basket, tenis, golf, dan piano klasik.Terlepas dari segudang pencapaian yang telah diraihnya di usia muda, Thomas tetap rendah hati. Ia mendorong orang lain untuk tetap fokus pada perjalanan hidup masing-masing daripada membandingkan diri dengan orang lain."Menurut pendapat saya, jauh lebih baik menemukan apa yang benar-benar cocok untuk Anda dan konsisten dengannya, bahkan ketika terasa lambat," pesannya."Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi saya benar-benar percaya semua itu akan datang seiring berjalannya waktu jika Anda terus berjuang dan berusaha keras," pungkas Thomas.Kisah Thomas mengingatkan kita pada sosok-sosok jenius lain yang pernah mengguncang dunia di usia muda. Colin Maclaurin, pemegang rekor sebelumnya, adalah matematikawan yang karyanya masih dipelajari hingga saat ini.Namun ada yang membedakan Thomas dari para pendahulunya. Ia tidak hanya unggul dalam satu bidang, tetapi berhasil menyeimbangkan keahlian di teknik, matematika, dan kini sedang merambah dunia hukum.Keputusannya untuk mengambil spesialisasi hukum kekayaan intelektual menunjukkan visi jangka panjang yang matang. Di era ledakan teknologi dan kecerdasan buatan, pemahaman lintas disiplin seperti ini menjadi aset yang sangat berharga.Langkah Thomas juga menjadi cermin bagi sistem pendidikan modern. Homeschooling yang dikombinasikan dengan pengalaman langsung dari perjalanan ke berbagai negara terbukti mampu menghasilkan individu dengan wawasan global sejak dini.Pendekatan orang tuanya yang mengubah museum dan situs bersejarah menjadi ruang kelas adalah model pembelajaran yang mungkin patut ditiru. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus selalu terkurung di dalam empat dinding.Namun di balik semua kemudahan yang tampak, perjalanan Thomas pasti tidak semulus yang dibayangkan. Menjadi anak berusia 10 tahun di tengah mahasiswa perguruan tinggi tentu memiliki tantangan tersendiri.Begitu pula ketika ia kembali ke kampus yang sama sebagai profesor di usia 18 tahun. Dinamika sosial antara dirinya dan mahasiswa yang seusia atau bahkan lebih tua membutuhkan kedewasaan emosional yang luar biasa.Thomas membuktikan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Kemampuan berkomunikasi, berempati, dan membangun hubungan kolaboratif dengan mahasiswa adalah kunci keberhasilannya sebagai pengajar.Metode perkuliahan kolaboratif yang dipilihnya juga menunjukkan bahwa ia tidak terjebak dalam gaya mengajar otoriter. Ia memahami bahwa pendidikan adalah proses dua arah, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah.Pencapaian Thomas juga memantik pertanyaan tentang bagaimana dunia akademik memandang usia. Selama tiga abad, rekor Maclaurin dianggap sebagai anomali, sebuah kejadian langka yang tidak akan terulang.Kini, dengan hadirnya Thomas dan adiknya yang juga memecahkan rekor kelulusan termuda, kita mungkin sedang menyaksikan perubahan paradigma. Generasi baru dengan akses informasi dan metode belajar yang lebih baik tampaknya mampu melampaui batas-batas yang pernah ada.Rekor Thomas mungkin akan bertahan lama, atau mungkin akan segera dipecahkan oleh remaja lain di masa depan. Namun yang terpenting adalah pesan yang ia sampaikan: temukan apa yang cocok untuk Anda, dan konsistenlah.Di tengah gempuran media sosial yang sering membuat orang merasa tidak cukup baik, kata-kata Thomas menjadi pengingat yang menyejukkan. Kecepatan bukanlah segalanya; konsistensi dan ketekunan adalah kunci.Nathan Thomas bukan sekadar pemegang rekor. Ia adalah simbol dari apa yang bisa dicapai ketika bakat bertemu dengan lingkungan yang mendukung, dan ketika kerja keras berjalan seiring dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.(Wy/Red)
Bagikan: