31 Jul, 2026

Bukan Cuma Soal Perut, Lamanya Feses di Dalam Tubuh Bisa Tentukan Nasib Kesehatan Jangka Panjang

Indofakta.com, 2026-07-31 07:17:21 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Proses pencernaan yang berlangsung di dalam tubuh manusia ternyata menyimpan misteri kesehatan yang selama ini luput dari perhatian. Lamanya waktu yang dibutuhkan makanan untuk berubah menjadi feses dan meninggalkan sistem pencernaan, yang dikenal dengan istilah waktu transit usus, ternyata memiliki kaitan erat dengan risiko berbagai penyakit kronis.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 7 Juli 2026 Turun, Cek Harga Terbaru dan Rincian Buyback

Jumat, 31 Juli 2026, menjadi pengingat bahwa kesehatan usus bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga tentang seberapa cepat sisa makanan itu melintas di sepanjang saluran pencernaan. Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2023 di jurnal Gut mengungkap bahwa waktu transit usus adalah faktor yang sangat menentukan komposisi dan aktivitas mikrobioma usus, yang pada gilirannya memengaruhi kesehatan manusia secara keseluruhan.

Baca juga: Daftar 21 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Kesehatan Kembali Viral, Ini Penjelasan Lengkapnya

Tim peneliti dari Denmark dan Belgia yang dipimpin oleh Henrik Roager, peneliti mikrobioma dari Universitas Kopenhagen, menemukan bahwa waktu transit usus adalah salah satu faktor teratas yang menyebabkan variasi besar dalam komposisi mikroba feses antarindividu. Namun ironisnya, parameter penting ini masih jarang dipertimbangkan dalam studi tentang mikrobioma usus manusia.

Baca juga: Utang PMMP Tembus Rp2 Triliun, Tekanan Keuangan Emiten Afiliasi Kaesang Menguat

Berbagai faktor memengaruhi cepat lambatnya waktu transit usus seseorang. Jenis makanan dan bahan-bahan di dalamnya menjadi penentu utama, tetapi jenis kelamin juga berperan karena waktu transit usus umumnya lebih pendek pada pria. Usia juga memengaruhi karena pada orang lanjut usia, proses transit biasanya berlangsung lebih lama.

Baca juga: Lonjakan Kasus Susah Tidur di Kota Besar, Ahli Ungkap Pola Baru Insomnia Modern yang Semakin Meluas

Aktivitas fisik, tingkat stres, konsumsi obat-obatan, hingga faktor genetik semuanya ikut menentukan berapa lama feses tinggal di dalam tubuh. Bahkan pada individu yang sama, waktu transit ini dapat bervariasi dari waktu ke waktu, menciptakan kondisi yang mungkin memicu konsekuensi kesehatan jangka panjang.

Dalam kasus penyakit gastrointestinal, waktu transit yang lambat dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih bakteri di usus kecil, suatu kondisi yang umum ditemukan pada pasien sindrom iritasi usus besar atau IBS. Penyakit radang usus atau IBD yang sering dikaitkan dengan diare dan atau konstipasi juga diduga dipengaruhi oleh waktu transit usus.

Hubungan yang lebih mengkhawatirkan ditemukan antara konstipasi, IBD, dan risiko kanker usus besar. Para peneliti menulis bahwa baik konstipasi maupun IBD merupakan faktor risiko untuk perkembangan kanker usus besar, yang merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor tiga di dunia.

Kanker usus besar, di antara faktor gaya hidup lainnya, dikaitkan dengan pola makan ala Barat dan waktu transit usus yang berkepanjangan. Kedua kondisi ini dapat menyebabkan perubahan pada kumpulan asam empedu yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker.

Dampak waktu transit usus yang tidak normal ternyata tidak berhenti di saluran pencernaan. Para peneliti mencatat bahwa konstipasi dan kebiasaan buang air besar yang berubah juga dikaitkan dengan penyakit neurologis, termasuk penyakit Parkinson, Alzheimer, dan sklerosis multipel.

Meskipun banyak mekanisme sebab akibat masih bersifat hipotetis, para peneliti menduga waktu transit yang lebih lambat dapat menyebabkan mikroba usus kehabisan karbohidrat yang dapat difermentasi. Akibatnya, mikroba beralih dari memfermentasi karbohidrat menjadi memfermentasi protein, sebuah proses yang menghasilkan senyawa-senyawa berbahaya.

Ketan Thanki, seorang ahli bedah kolorektal dari Long Beach Medical Center di California yang tidak terlibat dalam penelitian, menjelaskan bahwa peralihan ini menghasilkan metabolit seperti amonia, hidrogen sulfida, fenol, indol, dan asam lemak rantai cabang. Senyawa-senyawa ini bersifat toksik langsung bagi sel-sel usus besar, merusak DNA sel-sel tersebut, menyebabkan mutasi pemicu kanker, dan mendorong kebocoran dinding usus yang pada akhirnya memicu peradangan sistemik.

Penelitian ini tidak secara definitif menyimpulkan bahwa waktu transit usus yang panjang atau pendek secara inheren baik atau buruk. Namun yang jelas, para ilmuwan baru mulai memahami betapa pentingnya waktu transit usus dalam kaitannya dengan kesehatan dan penyakit, dan ini membuka peluang besar untuk penelitian di masa depan.

Dengan menyertakan pengukuran waktu transit usus dalam studi terkait mikrobioma usus, para peneliti dapat memajukan pemahaman tentang hubungan antara mikrobioma usus, pola makan, dan penyakit. Wawasan semacam ini mungkin menjadi kunci untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan berbagai penyakit di dalam usus dan di luar usus sepanjang rentang kehidupan manusia.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan pencernaan adalah fondasi dari kesehatan secara keseluruhan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering mengabaikan pola makan dan gaya hidup sehat, memahami waktu transit usus bisa menjadi langkah sederhana namun penting untuk mencegah penyakit yang lebih serius di kemudian hari.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online