NEW JERSEY -- Final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium akan mempertemukan dua arsitek sepak bola yang sembilan tahun lalu masih duduk berhadap-hadapan sebagai guru dan murid di ruang kelas sekolah pelatih di Las Rozas, Spanyol.
Baca juga: Trump Kirim Ancaman Terbuka ke Iran: "Berdamai atau Kami Selesaikan Sampai Tuntas"Lionel Scaloni, pelatih Argentina yang sudah menggenggam gelar juara dunia 2022 dan dua trofi Copa America, akan menantang Luis de la Fuente, peracik Spanyol yang baru saja merebut Piala Eropa 2024 dan UEFA Nations League 2023.
Baca juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: 104 Laga, 48 Negara, dan Final Spanyol vs Argentina yang Siap Mengguncang DuniaHubungan keduanya bukanlah sekadar pertemuan dua kolega di panggung tertinggi, melainkan reuni antara mantan pengajar dan siswa yang saling mengagumi, saling belajar, dan kini berdiri sejajar memperebutkan trofi paling bergengsi.
Baca juga: Messi Membungkam Inggris, Lalu Mengirim Pesan yang Sulit Diabaikan: "Kemenangan Ini Sangat Istimewa"Pada Minggu, 19 Juli 2026, momen itu akan menjadi kenyataan setelah Argentina menyingkirkan Inggris di semifinal, sementara Spanyol melewati hadangan lawannya di babak empat besar.
Baca juga: Mbappé Gagal ke Final, Tapi Perang Sepatu Emas Belum Tamat! Messi Siap Nyalip, Inggris Bisa Jadi KorbanMontse Tomé, mantan pelatih tim nasional wanita Spanyol, adalah saksi langsung jalinan guru-murid itu. Ia berada di kelas yang sama bersama Scaloni pada 2017, mengikuti kursus lisensi kepelatihan UEFA di Ciudad del Futbol, kompleks federasi sepak bola Spanyol."Ada persyaratan tertentu: harus sudah bermain sepak bola profesional selama delapan tahun dan menjadi pemain internasional setidaknya empat kali," kata Tomé, mengenang seleksi ketat kursus yang dijalaninya berkat beasiswa untuk mendorong pelatih perempuan.Kursus itu berlangsung layaknya sekolah formal, Senin hingga Jumat, pukul 09.00 sampai 19.00, dengan jadwal sangat ketat. "Bagian teorinya benar-benar seperti sekolah," ujar Tomé.Peserta dari luar Madrid, termasuk Scaloni yang tinggal di Mallorca, menginap di asrama federasi selama blok teori dan pulang hanya pada akhir pekan. Setiap jenjang kursus lalu dilengkapi praktik lapangan yang dipilih secara individual.De la Fuente, yang saat itu masih jauh dari bayangan menukangi tim senior La Roja, mengajar mata kuliah taktik dan sistem permainan. Scaloni, yang baru saja pensiun sebagai pemain, duduk sebagai salah satu murid paling tekun."Saya bukan hanya memiliki dia sebagai pengajar dalam kursus itu, tetapi juga punya hubungan khusus dengan Luis karena, jujur, saya menghargai kerendahan hati dan caranya memperlakukan orang," kata Scaloni setelah semifinal melawan Inggris.Takdir, menurut Scaloni, mempertemukan mereka lagi di final. De la Fuente pun menyambut momen ini dengan perasaan serupa: "Saya benar-benar bahagia lawan kami adalah Argentina. Saya pikir ini akan menjadi pertandingan yang tercatat dalam sejarah sepak bola."Di luar kelas, interaksi guru dan murid itu jauh melampaui materi kuliah. Para peserta yang sebagian besar mantan pesepak bola papan atas seperti Leo Franco, Javier Saviola, Fernando Redondo, dan Andoni Iraola, sering memperpanjang hari dengan bermain bola bersama, berlatih fisik, dan makan malam hingga larut."Mungkin percakapan-percakapan itulah yang paling banyak mengajari saya. Saya punya kenangan yang indah tentang kursus itu," kata Tomé, yang bahkan menyebut sekolah pelatih federasi Spanyol sebagai yang terbaik di dunia.Sembilan tahun berlalu, relasi kuasa di antara mereka nyaris sepenuhnya terbalik. Scaloni, murid tekun dari Las Rozas, kini menyandang predikat juara dunia dan dua kali juara Copa America. Sementara De la Fuente, sang pengajar, baru benar-benar bersinar di panggung internasional bersama tim senior Spanyol setelah bertahun-tahun mengasuh tim yunior.De la Fuente mengakui bahwa ia banyak mengagumi perjalanan mantan muridnya itu. "Scaloni mencatatkan angka yang luar biasa sejak menangani tim nasionalnya. Saya berbagi banyak idenya. Secara taktik, saya pengagum berat, dan secara personal, saya mengenalnya sebagai pribadi yang menyenangkan," katanya di forum pelatih UEFA.Pengakuan itu bukan basa-basi. Scaloni mengisahkan bahwa selepas Piala Dunia Qatar 2022, ia dan De la Fuente berbincang panjang berdua. "Kami mendiskusikan hal-hal yang, saya kira, membantunya. Saya tidak mengatakan ini dengan arogan, tetapi dalam cara yang baik. Dan dia menerapkannya di timnya dengan brilian," kenang Scaloni.Guru dan murid itu ternyata tidak hanya berbagi kurikulum, melainkan juga jalan terjal yang serupa ketika pertama kali menangani tim nasional senior. Scaloni ditunjuk sebagai pelatih interim Argentina pada 2018 tanpa pengalaman melatih klub, dan segera menerima cibiran.Diego Maradona waktu itu melontarkan ledekan yang kini legendaris: "Dia orang baik, tapi bahkan mengatur lalu lintas pun dia tidak akan bisa." De la Fuente, yang diangkat menukangi Spanyol pada 2022, juga harus menghadapi keraguan publik karena rekam jejaknya yang minim di luar tim yunior."Dia pelatih yang fantastis karena rendah hati, bekerja di balik layar, dan tidak mencari sorotan. Banyak yang meragukannya ketika mengambil alih tim. Tapi dia menunjukkan bahwa pengetahuan tentang sepak bola Spanyol dan manajemen manusia lebih berharga daripada teori apa pun. Saya melihat banyak cerminan perjalanan saya di dalam dirinya," kata Scaloni.Kesamaan perjalanan itu membuat hubungan mereka semakin rekat. De la Fuente mengaku sering berkirim pesan singkat dengan Scaloni hanya untuk menanyakan kabar, tanpa membicarakan taktik. "Dalam bisnis ini, menemukan seseorang yang begitu transparan dan tulus sangat langka," ujar Scaloni.Di sisi lain, De la Fuente melihat apa yang dicapai Scaloni dalam mengelola ruang ganti adalah pelajaran berharga. "Yang paling saya kagumi dari Lionel adalah kerendahan hatinya. Dia sudah menjuarai Piala Dunia dan Copa America, tetapi ketika berbicara dengannya, dia tetaplah pria yang sama seperti di awal. Dia membangun kelompok di mana ego memberi jalan bagi kepentingan kolektif. Bagi semua pelatih, manajemen manusia ala Scaloni adalah pelajaran," puji De la Fuente.Di forum UEFA, keduanya pernah membongkar isi percakapan mereka yang lebih personal dan jauh dari urusan strategi. "Kami berbicara tentang kesepian seorang pelatih. Orang-orang hanya melihat 90 menit pertandingan, tapi Lionel dan saya tahu bagaimana rasanya membuat keputusan yang berdampak pada seluruh negeri. Bisa berbagi itu dengan seorang teman yang merasakan tekanan yang sama di belahan dunia lain adalah kelegaan," ungkap De la Fuente.Montse Tomé, yang kemudian bekerja selama tujuh tahun bersama De la Fuente di federasi Spanyol, menilai bahwa baik guru maupun murid itu pada akhirnya adalah manajer-manajer hebat yang lahir dari keberanian mengambil keputusan berdasarkan keyakinan, bukan karena tekanan luar."Mereka berdua adalah orang baik. Mereka mencintai apa yang mereka kerjakan, dan itu membuat segalanya lebih mudah: meyakinkan sebuah kelompok, membuat mereka mengikuti Anda," katanya. "Kadang ada kekurangan kesabaran di sepak bola, tapi keduanya menunjukkan bahwa mereka punya kemampuan dan bakat untuk melakukan segalanya dengan baik."Tomé tidak pernah membayangkan bahwa guru dan murid dari kelasnya akan berhadapan di final Piala Dunia. "Sebuah final Piala Dunia? Tidak, jujur, saya tidak pernah membayangkan itu," ujarnya sambil tersenyum."Tapi saya sudah bisa melihat bahwa Luis, yang saat itu melatih tim yunior, punya modal untuk mencapai puncak. Dia pekerja keras, dan Anda bisa tahu dia mencintai ini, menonton pertandingan tanpa henti."Duel di MetLife Stadium nanti akan menjadi panggung pembuktian bagi dua filosofi yang bertemu di ruang kelas dan kini diuji di lapangan. Argentina dengan intensitas dan soliditas khas Scaloni akan bertemu Spanyol dengan penguasaan bola dan tekanan tinggi ala De la Fuente. Namun, bagi kedua pelatih, hasil akhir mungkin hanya satu babak dari cerita panjang sebuah persahabatan."Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka," kata Tomé.(Wy/Red)
Bagikan: