AS -- Lionel Messi tidak mencetak gol di Atlanta. Namun, ketika peluit panjang berbunyi, jejaknya ada di mana-mana.
Baca juga: Trump Sambut Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, Hubungan AS-Irak Masuki Babak BaruDua umpan yang ia lepaskan mengubah arah pertandingan. Argentina bangkit, membalikkan keadaan, lalu mengusir Inggris dari Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-1.
Baca juga: Jelang Laga Argentina vs Inggris, Rodrigo De Paul Ungkap Messi Sedang Menikmati Piala Dunia 2026: "Saya Sangat Bahagia Melihatnya"Inggris sempat membuat Argentina limbung. Anthony Gordon membawa timnya unggul lebih dulu dan memaksa juara bertahan bermain dalam tekanan.
Baca juga: Spanyol Bungkam Prancis 2-0, La Roja Melenggang ke Final Piala Dunia 2026 dengan Performa Nyaris SempurnaWaktu terus berjalan, sementara harapan Argentina perlahan menipis. Sampai kemudian Messi kembali melakukan apa yang selama hampir dua dekade menjadi ciri khasnya: membaca ruang yang tidak dilihat orang lain.
Baca juga: Inggris Lolos dari Miami yang Menyiksa, Bellingham Jadi Pembeda saat Gilas Norwegia 1-2Pada menit ke-85, kapten Argentina itu mengirim umpan yang diselesaikan Enzo Fernandez menjadi gol penyama kedudukan.Momentum langsung berpindah.Inggris yang sebelumnya begitu percaya diri mendadak kehilangan kendali. Argentina justru semakin berani menyerang.Beberapa saat kemudian, Messi kembali menjadi sumber petaka.Umpan silangnya melayang tepat ke arah Lautaro Martinez. Sundulan sang penyerang menggetarkan gawang Inggris dan memastikan Argentina melaju ke final.Messi tidak menyebut kemenangan itu sebagai sekadar tiket menuju partai puncak.Baginya, ada makna yang jauh lebih dalam."Kemenangan ini sangat istimewa, terutama karena kami bermain melawan Inggris dengan seluruh konteks sejarah yang menyertainya," ujar Messi seusai pertandingan.Kalimat itu pendek.Namun bobotnya jauh melampaui pertandingan sepak bola.Laga di Atlanta memang tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Di balik duel 90 menit itu, bayang-bayang sengketa Kepulauan Falkland—atau Islas Malvinas bagi Argentina—ikut hadir.Hubungan kedua negara masih menyimpan luka sejak perang pada 1982, ketika Argentina menginvasi kepulauan tersebut sebelum akhirnya Inggris kembali mengambil alih wilayah itu.Di atas lapangan, para pemain bertanding mengejar tiket final.Di luar lapangan, pertandingan itu membawa lapisan emosi yang lebih rumit dibanding sekadar perebutan kemenangan.Meski begitu, Messi tidak larut dalam romantisme sejarah.Ia justru memilih menyoroti karakter timnya.Menurutnya, Argentina kembali menunjukkan mengapa mereka tetap menjadi salah satu tim paling sulit dikalahkan di turnamen ini.Mental mereka, kata Messi, kembali berbicara ketika keadaan terlihat hampir mustahil.Bukan kali pertama Argentina keluar dari tekanan.Pada babak 16 besar, mereka bahkan sempat tertinggal dua gol dari Mesir sebelum membalikkan keadaan dan menang dramatis 3-2.Pola yang sama kembali terlihat saat menghadapi Inggris.Mereka tidak panik.Mereka tidak kehilangan arah.Sebaliknya, Argentina terus menekan hingga menemukan celah."Apa yang dilakukan tim ini sungguh luar biasa. Pertandingan ini sekali lagi menunjukkan karakter kami, semangat juang kami, dan bagaimana kami bermain sebagai satu kesatuan," kata Messi.Ucapan itu bukan sekadar pujian kepada rekan-rekannya.Sepanjang turnamen, Argentina memang berkali-kali menang bukan karena tampil paling dominan, melainkan karena mampu bertahan ketika situasi memburuk.Di saat tim lain mulai kehilangan ketenangan, Argentina justru terlihat semakin hidup.Messi menjadi simbol dari ketenangan itu.Pada usia 39 tahun, ia mungkin tidak lagi berlari sejauh dulu.Namun pengaruhnya justru terasa semakin besar.Ia tidak selalu menjadi penyelesai.Ia menjadi pengatur ritme, pembaca permainan, sekaligus penentu arah ketika pertandingan memasuki momen paling genting.Kini tantangan yang lebih besar telah menunggu.Di partai final, Argentina akan berhadapan dengan Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey.Lawan yang datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Prancis 2-0 pada semifinal lainnya.Bagi Messi, laga itu memiliki makna yang juga sangat pribadi.Sebagian besar kariernya dibangun di Spanyol bersama Barcelona. Ia mengenal filosofi sepak bola negara itu, memahami karakter para pemainnya, bahkan tumbuh menjadi salah satu ikon terbesar kompetisi mereka.Karena itu, ia menaruh respek besar kepada calon lawannya."Spanyol adalah tim yang luar biasa. Mereka memiliki pemain-pemain hebat," ujar Messi."Mereka bermain sangat baik. Saya mengenal mereka dengan sangat baik. Filosofi sepak bola mereka berkembang selama bertahun-tahun dan saya juga mengenal banyak pemain mereka."Final nanti bukan hanya mempertemukan dua kekuatan terbaik turnamen.Pertandingan itu juga menjadi panggung bagi Messi untuk sekali lagi menantang sejarah.Di usia yang mendekati kepala empat, ia masih menjadi pusat permainan Argentina.Bukan lewat kecepatan.Bukan pula lewat ledakan fisik.Melainkan melalui kecerdasan, ketenangan, dan kemampuan mengubah satu sentuhan sederhana menjadi penentu nasib sebuah pertandingan.Atlanta kembali menjadi buktinya.Messi tidak mencetak gol.Namun ketika Argentina memastikan tempat di final, semua jalan menuju kemenangan tetap berawal dari kaki kirinya.(Wy/Red)
Bagikan: