1 Nov, 2026

Harga Emas Anjlok 30 Persen dari Rekor, Saatnya Borong atau Justru Tahan Diri?

Indofakta.com, 2026-11-01 11:33:03 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Harga emas dunia mencatat penurunan tajam sepanjang 2026, meninggalkan pertanyaan besar bagi investor: apakah ini momentum untuk membeli, atau sinyal untuk menahan diri. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, harga emas spot merosot 3,62 persen ke level US$3.875,84 per troy ounce, level terendah sejak Oktober 2025, seperti dilansir Kontan dari Reuters.

Baca juga: Soegiharto Santoso: Menko AHY Layak Raih Special Honorary Leadership Award di ASOCIO Digital & AI Summit 2026

Penurunan itu memperpanjang koreksi emas yang telah mencapai sekitar 30 persen dari puncak rekor US$5.595 per troy ounce pada Januari 2026. Laporan World Gold Council (WGC) yang dikutip Investor.id mencatat harga acuan internasional sempat turun ke US$4.001,80 per troy ounce pada 25 Juni 2026, koreksi sekitar 26 persen dari puncaknya.

Baca juga: Disdagin Bandung Gandeng SBM ITB Tingkatkan Daya Saing IKM

Analis Pasar Senior WGC, Louise Street, menyebut volatilitas emas meningkat signifikan pada 2026. Kombinasi momentum harga dan meningkatnya risiko geopolitik sempat mendorong permintaan investasi, terutama di Asia, sebelum koreksi terjadi.

Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Peningkatan Investasi Berkualitas, Hilirisasi, dan Percepatan Perizinan

Pemicu koreksi kali ini bukan sekadar aksi ambil untung. Kontan melaporkan anjloknya saham sektor teknologi memicu kekhawatiran bahwa pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI) tidak memberikan imbal hasil memadai. "Logam mulia tidak akan mampu lolos dari dampak koreksi tajam di pasar saham," ujar pedagang logam independen Tai Wong, seperti dikutip Reuters.

Baca juga: APKOMINDO dan APTIKNAS Dukung The 8th Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, Dorong Adopsi AI dan Transformasi Industri Nasional

Analis Commerzbank menambahkan penurunan tajam saham teknologi memicu aksi jual paksa terhadap aset aman, termasuk emas, serta margin call. Namun, Commerzbank memperkirakan harga logam mulia akan kembali pulih.

Faktor lain yang menekan emas adalah ekspektasi suku bunga tinggi berkepanjangan. Kementerian Perdagangan RI mencatat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Permintaan fisik di Asia yang melemah turut menambah tekanan.

Di dalam negeri, dampaknya terasa pada harga emas Antam. Pada Minggu, 1 November 2026, harga emas Antam ukuran 1 gram tercatat Rp2.526.000, stabil dibandingkan sehari sebelumnya, seperti dilansir Kompas dari Logam Mulia. Harga buyback berada di level Rp2.276.000 per gram. Namun, di Pegadaian, harga emas Antam turun Rp21.000 menjadi Rp2.564.000 per gram, menurut Bisnis.

Bagi investor, koreksi ini memunculkan dilema klasik. Perencana keuangan Rista Zwestika mengingatkan harga murah belum tentu tepat jika uang yang digunakan dibutuhkan untuk hidup. "Jangan sampai karena tergoda harga emas turun, masyarakat menggunakan dana darurat, uang sekolah anak, atau bahkan berutang untuk membeli emas," kata Rista kepada Kompas.com.

Rista menyarankan tiga hal sebelum menambah porsi emas. Pertama, periksa kondisi keuangan. Kedua, perhatikan tujuan investasi, apakah untuk kebutuhan jangka pendek atau diversifikasi jangka panjang. Ketiga, hindari membeli sekaligus hanya karena merasa harga sudah murah. "Strategi pembelian berkala atau dollar cost averaging dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu pembelian," ujarnya.

Senada, Pluang menyarankan strategi cicil atau DCA dengan membeli sebagian kecil saat harga stabil dan menyiapkan dana cadangan untuk membeli lebih banyak saat koreksi. Strategi ini menurunkan harga rata-rata pembelian.

Di sisi lain, ada sinyal positif yang sering luput dari perhatian. Kontan mencatat bank sentral cenderung menguatkan pembelian ketika harga emas berada di bawah US$4.000. Survei Reuters terhadap 30 analis dan investor yang dikutip CNBCe menunjukkan proyeksi harga rata-rata emas 2027 justru dinaikkan menjadi US$4.650 per troy ounce dari sebelumnya US$4.610.

Standard Chartered memperkirakan harga emas akan stabil dan pulih dalam beberapa bulan ke depan. Analis StoneX, Rhona O'Connell, melihat perbaikan permintaan fisik dari India dan China dapat menopang harga. World Bank dalam laporannya memperkirakan harga logam mulia bisa melunak pada 2027, tetapi tetap lebih dari tiga kali lipat rata-rata 2015-2019.

Dengan kata lain, koreksi ini tidak serta-merta menghapus prospek jangka panjang emas. Namun, keputusan membeli atau menahan diri tetap bergantung pada kondisi keuangan masing-masing investor, bukan pada panic buying atau ketakutan kehilangan momentum.

(Drt/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online