BEIJING -- Pada suatu pagi di Beijing, kabar itu meluncur tanpa banyak kata. Hanya beberapa kalimat pendek dari lembaga disiplin Partai Komunis China. Namun, seperti sering terjadi dalam politik Tiongkok, kalimat yang singkat justru menyimpan gempa yang besar.
Baca juga: Ancaman Trump dan Diplomasi Vance Warnai Perundingan AS–Iran di SwissBian Zhigang, salah satu pejabat paling dikenal di sektor antariksa dan pertahanan China, sedang diperiksa karena dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum serius”. Frasa itu terdengar administratif. Tapi bagi para pengamat politik China, kalimat tersebut hampir selalu menjadi kode bagi satu hal: korupsi.
Baca juga: Portugal Hancurkan Uzbekistan 5-0, Ronaldo Ukir Sejarah di HoustonRibuan kilometer dari Beijing, pada hari yang hampir bersamaan, drama lain berlangsung di Brasília. Polisi Federal Brasil menggerebek sejumlah lokasi yang terkait dengan penyelidikan Banco Master. Nama yang terseret bukan tokoh sembarangan. Jaques Wagner—pemimpin koalisi pemerintah di Senat dan salah satu sekutu terdekat Presiden Luiz Inácio Lula da Silva—mengundurkan diri dari jabatan strategisnya setelah penyelidikan mengarah ke dugaan hubungan dengan skema suap dan perdagangan pengaruh.
Baca juga: Jabar Raih Penghargaan Wisata Ramah Muslim Berstandar InternasionalDua negara. Dua sistem politik yang bertolak belakang. Satu pola yang sama: pemberantasan korupsi mulai menyentuh orang-orang yang berdiri sangat dekat dengan pusat kekuasaan.
Baca juga: Trump Diduga Jalin Komunikasi dengan Oposisi Israel di Tengah Dinamika Hubungan dengan Netanyahu Menjelang Pemilu 2026Pertanyaannya bukan lagi siapa yang ditangkap.Pertanyaannya adalah: mengapa sekarang?Korupsi di Jantung NegaraSelama lebih dari satu dekade, Presiden Xi Jinping membangun reputasi sebagai pemimpin yang tidak ragu memburu “harimau dan lalat”—istilah untuk pejabat tinggi dan aparat rendahan yang terlibat korupsi.Kampanye itu telah menjatuhkan ribuan pejabat. Jenderal militer, gubernur provinsi, pimpinan perusahaan negara, hingga menteri pernah menjadi target.Namun kasus Bian Zhigang memiliki bobot yang berbeda.Ia bukan sekadar birokrat biasa. Sebagai Wakil Kepala State Administration of Science, Technology and Industry for National Defence (SASTIND) sekaligus Wakil Administrator China National Space Administration, Bian berada di persimpangan antara program antariksa, industri pertahanan, dan ambisi geopolitik Beijing.Dalam beberapa tahun terakhir, sektor inilah yang menjadi kebanggaan Xi Jinping. China mengirim wahana ke Bulan, membangun stasiun luar angkasa sendiri, dan mempercepat modernisasi militernya dengan anggaran ratusan miliar dolar.Di balik pencapaian itu mengalir kontrak-kontrak bernilai fantastis.“Follow the money,” kata seorang analis pertahanan Asia yang mengikuti perkembangan sektor antariksa China.Semakin besar proyek strategis, semakin besar pula peluang korupsi.Pembersihan yang berlangsung sejak 2023 menunjukkan pola yang konsisten. Pejabat Rocket Force, pimpinan industri pertahanan, hingga pengelola proyek antariksa satu demi satu terseret investigasi. Fenomena ini memunculkan paradoks yang terus menghantui Beijing.Di satu sisi, Xi membutuhkan kampanye antikorupsi untuk menjaga loyalitas dan disiplin elite.Di sisi lain, fakta bahwa korupsi terus ditemukan di sektor paling strategis menunjukkan bahwa penyakit tersebut belum pernah benar-benar sembuh.Senjata Politik atau Operasi Pembersihan?Di lingkungan politik China, sulit memisahkan pemberantasan korupsi dari konsolidasi kekuasaan.Komisi Inspeksi Disiplin Pusat (CCDI), lembaga yang memimpin sebagian besar investigasi, merupakan instrumen paling kuat dalam sistem pengawasan internal Partai Komunis.Secara resmi, tugasnya adalah menjaga integritas partai.Namun dalam praktiknya, lembaga ini juga menjadi alat untuk memastikan tidak ada pusat kekuatan alternatif yang berkembang di luar kendali kepemimpinan pusat.Banyak pejabat yang tumbang dalam beberapa tahun terakhir justru merupakan orang-orang yang pernah naik pada era Xi sendiri.Fakta ini memperumit narasi bahwa semua operasi tersebut sekadar pembersihan lawan politik.Yang lebih mungkin terjadi adalah kombinasi keduanya.Korupsi memang nyata.Tetapi pemberantasannya sekaligus berfungsi sebagai mekanisme kontrol.Dalam sistem yang tidak memiliki pengawasan independen yang kuat, kampanye antikorupsi menjadi cara negara untuk memperbarui dirinya sendiri—atau dalam istilah yang sering digunakan Xi Jinping, “self-revolution”.Brasil dan Bayang-Bayang Lava JatoJika China memperlihatkan model pengawasan dari atas, Brasil menunjukkan wajah yang berbeda.Di negara demokrasi terbesar Amerika Latin itu, lembaga penegak hukum memiliki ruang yang lebih besar untuk menjangkau elite politik.Kasus Banco Master menjadi contoh terbaru.Penyelidikan mengarah pada dugaan penggunaan fasilitas keuangan untuk membeli pengaruh politik lintas partai. Dugaan hadiah berupa apartemen mewah, uang tunai, dan berbagai bentuk kedekatan dengan pengambil keputusan menjadi fokus penyidik.Nama-nama yang muncul tidak berasal dari satu kubu saja.Politisi yang dekat dengan Lula maupun tokoh yang memiliki hubungan dengan kelompok mantan Presiden Jair Bolsonaro sama-sama terseret dalam pusaran perkara.Bagi banyak warga Brasil, pola ini mengingatkan pada Operação Lava Jato atau Operation Car Wash, skandal korupsi raksasa yang mengguncang negeri itu satu dekade lalu.Kala itu, penyelidikan berhasil membongkar jaringan suap yang melibatkan perusahaan negara, kontraktor besar, dan politisi papan atas. Dampaknya bukan hanya hukum, melainkan juga politik.Presiden jatuh.Partai-partai besar terpecah.Peta kekuasaan berubah.Kini, pertanyaan yang sama kembali muncul.Apakah Banco Master akan menjadi Lava Jato jilid kedua?Tahun Politik yang BerbahayaWaktu kemunculan skandal ini bukan kebetulan yang sepele.Brasil sedang bergerak menuju pemilu Oktober 2026.Dalam situasi seperti itu, setiap tuduhan korupsi berubah menjadi amunisi politik.Secara hukum, belum ada indikasi yang menghubungkan Lula secara langsung dengan dugaan pelanggaran.Namun politik sering kali bekerja melalui persepsi, bukan putusan pengadilan.Bagi oposisi, fakta bahwa salah satu sekutu terdekat presiden terseret investigasi sudah cukup untuk membangun narasi bahwa pemerintahan kehilangan kendali atas lingkaran dalamnya.Pasar keuangan pun mulai memperhatikan.Investor global biasanya tidak hanya menilai siapa yang bersalah, melainkan juga bagaimana stabilitas politik akan terpengaruh.Ketika elite mulai saling menyerang, ketidakpastian meningkat.Ketika ketidakpastian meningkat, modal cenderung menunggu.Risiko yang Tak TerlihatMeski berangkat dari konteks berbeda, China dan Brasil menghadapi dilema yang mirip.Pemberantasan korupsi memang dapat meningkatkan legitimasi pemerintah.Namun jika dilakukan terlalu agresif, efek sampingnya juga besar.Di China, ketakutan pejabat untuk mengambil keputusan dapat menciptakan paralisis birokrasi. Para pejabat memilih tidak bertindak daripada mengambil risiko menjadi target investigasi.Dalam jangka pendek, kondisi itu mungkin meningkatkan disiplin.Dalam jangka panjang, ia berpotensi memperlambat inovasi dan pelaksanaan proyek strategis.Di Brasil, risiko yang muncul berbeda.Terlalu banyak skandal dapat memperdalam polarisasi politik dan mengikis kepercayaan publik terhadap institusi.Akibatnya, setiap proses hukum akan selalu dicurigai sebagai alat politik.Ketika itu terjadi, perang melawan korupsi kehilangan legitimasi moralnya.Pertarungan yang Belum SelesaiKasus Bian Zhigang dan skandal Banco Master kemungkinan bukan akhir cerita.Keduanya justru tampak seperti babak baru dari pertarungan yang lebih besar.Di Beijing, pertaruhannya adalah kemampuan Xi Jinping membersihkan sistem tanpa merusak kapasitas negara yang ingin menjadi kekuatan teknologi dan militer terbesar abad ini.Di Brasília, pertaruhannya adalah kemampuan demokrasi Brasil membuktikan bahwa hukum masih dapat menjangkau elite tanpa berubah menjadi instrumen balas dendam politik.Sejarah menunjukkan bahwa korupsi jarang tumbuh hanya karena keserakahan individu.Ia berkembang karena sistem memberikan insentif dan kesempatan.Karena itu, setiap penangkapan selalu menyelesaikan masalah yang terlihat, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan.Bian Zhigang mungkin akan hilang dari panggung publik.Jaques Wagner mungkin kehilangan jabatannya.Namun pertanyaan yang lebih penting tetap menggantung di udara Beijing dan Brasília:Apakah yang sedang dibersihkan benar-benar korupsinya, atau hanya orang-orang yang kebetulan tertangkap dalam pusaran perebutan kekuasaan?(Wy/Red)
Bagikan: