PEMATANGSIANTAR - Pematangsiantar dinilai memiliki peluang besar menjadi simpul pariwisata penyangga kawasan Danau Toba. Namun, peluang itu dinilai tidak akan berkembang jika kota ini hanya mengandalkan posisinya sebagai jalur lintasan tanpa membangun ekosistem pariwisata yang kuat.
Baca juga: Sukses Gelar Rangkaian Menjelang HUT Bhayangkara ke-80, Pewarta Polrestabes Medan Beri Apresiasi Tinggi atas Kinerja dan Sinergitas Kapolres AsahanGagasan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk 'Potensi Kota Pematangsiantar sebagai Simpul Pariwisata Danau Toba' yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Pematangsiantar di Aula FKIP Universitas Simalungun (USI), Sabtu (27/6/2026).
Baca juga: Tragedi di Kupang: Kematian Dokter Icha, Intimidasi, dan Dugaan Tekanan Psikologis di Ruang IGDKetua IWO Kota Pematangsiantar, Jon Roi Purba, mengajak berbagai elemen masyarakat menjadikan forum itu sebagai ruang bertukar gagasan untuk membangun kota. Menurutnya, hasil diskusi tidak boleh berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi rekomendasi yang bisa diperjuangkan bersama.
Baca juga: Sekda Simalungun Ajak Pelajar Mulai Menabung Sejak DiniKepala Dinas Pariwisata Kota Pematangsiantar, Hamzah F Damanik, mengatakan bahwa siantar memang tidak memiliki wisata alam yang dominan. Karena itu, pengembangan pariwisata harus bertumpu pada destinasi buatan, sejarah, budaya, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan untuk menarik wisatawan.
Baca juga: Wali Kota Wesly Diwakili Wakil Wali Kota Hadiri Khitanan Massal Gratis STM BabuttaqwaIa mencontohkan Kebun Binatang Siantar, tempat rekreasi air, hingga berbagai ruang publik yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik. Menurutnya, kualitas penyelenggaraan event juga harus ditingkatkan agar mampu mendatangkan pengunjung."Siantar gudangnya orang kreatif. Karena itu kita membutuhkan gedung kesenian sebagai ruang berekspresi sekaligus representasi para pelaku seni," ujarnya.Hamzah juga mengajak kalangan mahasiswa lebih aktif menggelar kegiatan pada akhir pekan, mulai dari pagelaran budaya hingga pertunjukan musik. Aktivitas semacam itu dinilai mampu menciptakan suasana kota yang hidup sekaligus menjadi atraksi bagi wisatawan.Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun masyarakat sadar wisata. Menurutnya, promosi pariwisata tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga seluruh warga melalui sikap ramah dan penyebaran informasi yang benar, termasuk menangkal stigma negatif yang beredar di media sosial.Anggota DPRD Kota Pematangsiantar, Patar L Panjaitan, menyebut diskusi mengenai masa depan kota harus terus dilakukan dan tidak berhenti pada satu kesempatan. "Kita tidak boleh lelah membahas hal-hal baik untuk Kota Pematangsiantar yang kita cintai ini," katanya.Menurut Patar, seluruh organisasi perangkat daerah memiliki tanggung jawab dalam mendukung sektor pariwisata, bukan hanya Dinas Pariwisata. Ia juga mengingatkan bahwa Kota Pematangsiantar memiliki ikon seperti Roti Ganda yang selama ini menjadi buah tangan wajib bagi pengunjung."Kita adalah gerbang menuju Danau Toba. Peluang itu harus benar-benar dimanfaatkan," ujarnya.Politisi Gerindra ini juga mengusulkan penyediaan bus wisata yang dapat dimanfaatkan sekolah-sekolah untuk mengenalkan berbagai objek wisata kepada para pelajar sehingga kecintaan terhadap kota tumbuh sejak dini.Sementara itu, akademisi Jalatua Hasugian menilai sejarah Kota Pematangsiantar merupakan aset yang belum tergarap maksimal. Ia mencontohkan peninggalan era kolonial, Museum yang berdiri sejak 1939 hingga minuman legendaris Badak yang memiliki nilai historis dan dapat menjadi daya tarik tersendiri.Menurutnya, sejak masa kolonial, Pematangsiantar memang telah dirancang sebagai kota pendukung dengan ekosistem yang saling terhubung. Karena itu, tantangan saat ini adalah menentukan identitas yang ingin dipromosikan kepada wisatawan.Diskusi yang dimoderatori Imran tersebut turut menghasilkan sejumlah catatan penting, mulai dari kebutuhan gedung seni, perbaikan infrastruktur, penyediaan transportasi wisata, penguatan promosi digital, pengelolaan isu negatif di media sosial, hingga pengembangan miniatur Rumah Bolon sebagai daya tarik baru.Menutup diskusi, Jon Roi Purba menyimpulkan bahwa pengembangan pariwisata Pematangsiantar harus dimulai dari membangun ekosistem yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat. Dengan lahirnya masyarakat sadar wisata, menurutnya, kota ini akan mampu melahirkan lebih banyak produk unggulan dan semakin siap menjadi pintu gerbang utama menuju kawasan Danau Toba.(Harianto Girsang)
Bagikan: