19 Jul, 2026

Enam Gol Inggris Bikin Prancis Pusing Tujuh Keliling, Philadelphia Jadi Arena Roller Coaster

Indofakta.com, 2026-07-19 06:31:26 WIB

Bagikan:

PHILADELPHIA -- Kalau ada pertandingan yang cocok diberi label "jangan ditonton kalau punya riwayat jantung berdebar", laga Inggris melawan Prancis ini layak masuk nominasi. Skor akhir 6-4 memang sudah terdengar seperti hasil pertandingan futsal malam Jumat, padahal ini perebutan tempat ketiga Piala Dunia.

Baca juga: Trump Kirim Ancaman Terbuka ke Iran: "Berdamai atau Kami Selesaikan Sampai Tuntas"

Sebanyak 64.478 penonton di Lincoln Financial Field, Minggu, 19 Juli 2026, seolah membeli tiket untuk satu pertandingan, tetapi pulang membawa bonus film aksi, drama, thriller, komedi, dan sedikit horor bagi para pendukung Prancis.

Baca juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: 104 Laga, 48 Negara, dan Final Spanyol vs Argentina yang Siap Mengguncang Dunia

Pertandingan baru berusia tiga menit ketika Declan Rice mengirim tembakan dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras ke gawang Mike Maignan, sementara para bek Prancis masih terlihat seperti sedang menyelesaikan proses "loading".

Baca juga: Messi Membungkam Inggris, Lalu Mengirim Pesan yang Sulit Diabaikan: "Kemenangan Ini Sangat Istimewa"

Gol itu membuat Inggris langsung percaya diri, sedangkan Prancis mendadak sibuk mencari tombol reset yang ternyata tidak tersedia.

Baca juga: Mbappé Gagal ke Final, Tapi Perang Sepatu Emas Belum Tamat! Messi Siap Nyalip, Inggris Bisa Jadi Korban

Inggris sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya menyusun napas. Setiap pemain berbaju putih berlari seperti baru diberi tahu bahwa parkiran stadion akan ditutup lima menit lagi.

Menit ke-18, sepak pojok Rice melayang ke tiang jauh dan Ezri Konsa menyambutnya dengan sundulan mantap. Bek Prancis hanya bisa melihat bola lewat seperti orang menunggu bus yang ternyata bukan jurusannya.

Skor berubah menjadi 2-0 dan para pendukung Inggris mulai tersenyum. Pendukung Prancis? Mereka mulai menghitung berapa lama jeda turun minum masih tersisa.

Masalah Prancis semakin rumit ketika Marcus Rashford mengirim umpan terobosan pada menit ke-37. Bukayo Saka menerima bola dengan tenang, seolah sedang latihan sore, sebelum mengirim tembakan rendah yang kembali bersarang di gawang Maignan.

Belum selesai rasa kaget itu, Saka kembali muncul pada masa tambahan waktu babak pertama. Umpan Eberechi Eze diselesaikannya menjadi gol keempat Inggris.

Empat gol dalam satu babak membuat papan skor bekerja lembur. Kalau papan skor bisa berbicara, mungkin ia sudah bertanya, "Yakin ini bukan salah input?"

Babak pertama berakhir 4-0. Para pemain Inggris berjalan ke ruang ganti dengan langkah ringan. Sebaliknya, kubu Prancis tampak seperti mahasiswa yang baru sadar soal ujian ternyata hari ini, bukan minggu depan.

Didier Deschamps langsung melakukan empat pergantian pemain sekaligus selepas jeda. Jumlah pergantiannya hampir sebanyak jumlah gol yang sudah bersarang di gawang sendiri.

Thomas Tuchel justru terlihat jauh lebih santai. Ia hanya melakukan penyegaran seperlunya. Ibarat orang memasak, satu kubu mengganti seluruh resep, sementara kubu lain cukup menambah sedikit garam.

Lalu datanglah babak kedua yang membuat semua prediksi mendadak berantakan.

Menit ke-48, Michael Olise mengirim umpan cerdas kepada Kylian Mbappe. Sang kapten akhirnya mencetak gol pertama Prancis.

Enam menit berselang, giliran Mbappe berubah menjadi pelayan. Bradley Barcola menerima umpan tarik dan menyelesaikannya menjadi gol kedua.

Tiba-tiba pertandingan yang semula terlihat seperti jalan santai berubah menjadi wahana roller coaster tanpa sabuk pengaman.

Ketika Mbappe kembali mencetak gol pada menit ke-66, skor berubah menjadi 4-3. Pendukung Inggris mulai melirik jam tangan, sedangkan pendukung Prancis mulai membuka lagi harapan yang tadi sempat mereka lipat rapi.

Sayangnya, peluang demi peluang berikutnya gagal dimanfaatkan.

Olise beberapa kali mendapatkan kesempatan emas, tetapi bola lebih sering memilih jalan-jalan ke tempat lain.

Dayot Upamecano juga sempat mencoba dari jarak jauh. Namun Dean Henderson sedang berada dalam mode "akses ditolak". Apa pun yang datang ke gawangnya seperti mendapat balasan otomatis: "Maaf, gol yang Anda tuju sedang tidak tersedia."

Saat momentum terlihat berpihak kepada Prancis, datanglah satu insiden yang membuat seluruh cerita berubah lagi.

Malo Gusto melakukan pelanggaran di kotak penalti. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih.

Bukayo Saka maju sebagai eksekutor. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, dan tendangannya membuat bola bersarang mulus ke dalam gawang.

Skor kembali melebar menjadi 5-3.

Kalau pertandingan ini sebuah sinetron, penonton pasti sudah berkata, "Nah, ini dia plot twist episode malam ini."

Prancis ternyata belum menyerah.

Menjelang akhir pertandingan, Ousmane Dembele memperkecil ketertinggalan menjadi 5-4. Stadion kembali bergemuruh. Harapan yang tadi hampir pamit mendadak balik lagi membawa koper.

Semua pemain Prancis maju menyerang. Bahkan Mike Maignan tampak siap ikut membantu bila diperlukan.

Namun sepak bola memang punya selera humor yang kadang cukup usil.

Saat semua pemain Prancis berada di depan, ruang kosong di belakang terbuka sangat lebar.

Inggris langsung memanfaatkannya.

Jude Bellingham membawa bola dari tengah lapangan, melewati dua pemain, lalu melepaskan tembakan akurat yang memastikan gol keenam Inggris.

Gol itu seperti tombol "selesai" pada sebuah pertandingan yang sejak awal menolak berjalan normal.

Peluit panjang berbunyi. Skor akhir 6-4.

Para pemain Inggris merayakan kemenangan dengan penuh suka cita, sementara kubu Prancis hanya bisa menarik napas panjang. Bukan karena kurang berlari, tetapi karena pertandingan ini benar-benar menguras segala macam emosi.

Bukayo Saka tampil sebagai bintang lewat tiga gol yang dicetaknya. Declan Rice membuka jalan kemenangan dengan satu gol dan kontribusi besar dari bola mati. Jude Bellingham datang dari bangku cadangan untuk memberi penutup yang manis, atau pahit, tergantung dari sisi tribun mana seseorang menonton.

Di kubu Prancis, Mbappe tetap menunjukkan kualitasnya dengan dua gol dan satu assist. Barcola, Dembele, serta Olise juga memperlihatkan bahwa lini depan mereka masih sangat berbahaya.

Sayangnya, mencetak empat gol biasanya sudah cukup untuk menang. Hanya saja, kali ini mereka kebobolan enam. Ibarat menguras ember bocor, air yang dibuang kalah cepat dibanding air yang terus masuk.

Pertandingan ini memperlihatkan bahwa Inggris sedang menikmati masa regenerasi yang sangat menjanjikan. Permainan mereka agresif, cepat, dan berani mengambil risiko.

Prancis juga menunjukkan karakter luar biasa dengan bangkit dari ketertinggalan empat gol. Hanya saja, mengejar lawan yang sudah telanjur nyaman memang seperti mengejar kereta yang pintunya sudah tertutup. Bisa saja berhasil, tetapi butuh keajaiban yang hari itu belum datang.

Bagi para penonton netral, pertandingan ini adalah hiburan kelas premium. Delapan puluh sembilan menit pertama saja sudah penuh kejutan. Tambahan waktu bahkan terasa seperti bonus episode yang isinya masih dipenuhi gol.

Kalau ada yang sempat meninggalkan televisi hanya untuk membuat mi instan, besar kemungkinan ia kembali sambil bertanya, "Lho... kok sudah nambah gol lagi?"

Philadelphia akhirnya menjadi saksi salah satu pertandingan paling liar, paling menghibur, dan paling sulit ditebak di Piala Dunia 2026. Satu hal yang pasti, siapa pun yang menyaksikannya sampai peluit akhir hampir pasti setuju bahwa laga ini lebih seru daripada drama yang biasanya tayang pada jam utama televisi.

(Why/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online