19 Jul, 2026

Wanita 65 Tahun Masuk UGD Akibat Terlalu Bahagia, Sindrom Langka Terungkap

Indofakta.com, 2026-07-19 07:24:27 WIB

Bagikan:

LONDON -- Perasaan bahagia yang berlebihan, yang selama ini identik dengan hal positif, ternyata mampu memicu guncangan mematikan pada jantung. Sebuah laporan kasus terbaru mengungkap seorang perempuan berusia 65 tahun terpaksa dilarikan ke unit gawat darurat karena nyeri dada hebat dan sesak napas yang baru reda setelah tiga hari sejak ia menghadiri pesta pernikahan putrinya.

Baca juga: Daftar 21 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Kesehatan Kembali Viral, Ini Penjelasan Lengkapnya

Pada Jumat, 18 Juli 2026, jurnal Oxford Medical Case Reports merilis studi kasus tak lazim yang mendokumentasikan perjalanan diagnosis sang pasien. Awalnya, tim medis mencurigai serangan jantung akut, namun serangkaian tes justru menghasilkan temuan yang membingungkan.

Baca juga: Utang PMMP Tembus Rp2 Triliun, Tekanan Keuangan Emiten Afiliasi Kaesang Menguat

Pemeriksaan menunjukkan adanya pengurangan aliran darah ke jantung, sebuah penanda khas yang lazim dipicu oleh gumpalan darah. Akan tetapi, tidak ada gumpalan darah yang ditemukan di pembuluh koroner sang pasien. Sebaliknya, pencitraan jantung memperlihatkan penggembungan aneh pada bilik kiri jantung yang secara signifikan melemahkan kemampuannya memompa darah ke seluruh tubuh.

Baca juga: Lonjakan Kasus Susah Tidur di Kota Besar, Ahli Ungkap Pola Baru Insomnia Modern yang Semakin Meluas

Kondisi itu dikenal dalam dunia medis sebagai kardiomiopati takotsubo, disingkat TTS, yaitu sebuah sindrom langka yang menyerupai infark miokard akut. Para penulis laporan kasus menjelaskan bahwa penggembungan itu sangat mungkin dipicu oleh lonjakan emosi positif yang amat kuat, yang dalam konteks ini adalah kebahagiaan luar biasa selepas mengantar anak menikah.

Baca juga: Parna Raya Bangun Pabrik Nitrat Terintegrasi Rp4–4,9 Triliun di Gresik, Perkuat Kemandirian Industri Kimia Nasional

"Kedua kondisi, baik TTS yang dipicu emosi negatif maupun positif, melibatkan aktivasi sistem saraf simpatik dan lonjakan katekolamin," tulis para penulis studi tersebut. "Namun, respons neurohormonal yang terjadi dapat berbeda tergantung pada valensi emosional yang dialami."

TTS selama ini lebih dikenal luas dalam versi negatifnya, yaitu sindrom patah hati atau broken heart syndrome, yang muncul setelah peristiwa memilukan seperti putus cinta atau kehilangan orang tercinta. Sisi lain dari koin yang sama adalah happy heart syndrome, yang dipicu oleh banjir emosi positif, misalnya ketika memenangkan lotre, merayakan kelulusan, atau seperti dalam kasus ini, menyaksikan pernikahan anak.

Data menunjukkan bahwa sekitar satu hingga tiga persen pasien yang diduga mengalami serangan jantung namun tanpa ditemukan gumpalan pada bilik kiri, sebenarnya menderita TTS. Dari angka yang sudah sangat kecil itu, hanya sekitar empat persen yang dipicu oleh emosi positif. Dengan jumlah kasus yang tercatat sangat terbatas, para peneliti menduga angka tersebut bisa jadi lebih tinggi dalam kenyataan klinis, hanya saja kerap luput dari diagnosis.

"Mempertahankan kecurigaan klinis yang tinggi, bahkan pada pasien tanpa faktor risiko kardiovaskular konvensional, sangatlah krusial," tegas para penulis studi kasus tersebut.

Sindrom ini pertama kali didokumentasikan pada 1983 di Rumah Sakit Hiroshima City, Jepang. Nama takotsubo diambil dari perangkap gurita tradisional Jepang yang berbentuk seperti pot keramik, karena bilik kiri pasien TTS memang menggembung menyerupai wadah itu.

Ahli jantung John Madias dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, yang telah lama meneliti dua subtipe TTS ini, mengingatkan bahwa komplikasi jangka pendek dan panjang, serta angka kematian, pada dasarnya serupa antara happy heart syndrome dan broken heart syndrome. "Memang proporsi laki-laki yang dilaporkan mengalami happy heart syndrome lebih tinggi dibandingkan dengan broken heart syndrome," ujar Madias.

Menurutnya, dokter yang merawat pasien TTS, serta para peneliti yang mendalami patofisiologi sindrom ini, perlu menggali lebih jauh sifat emosi positif yang menjadi pemicu. Sebab, meskipun gejala happy heart syndrome seringkali tampak lebih ringan, kondisi tersebut sepenuhnya dapat mematikan.

Pada kasus perempuan berusia 65 tahun ini, penggembungan yang terjadi bersifat reversibel. Setelah menjalani perawatan intensif, fungsi jantungnya pulih sepenuhnya dan ia kini melanjutkan hidup sehat. "Dia kini menantikan momen-momen bahagia lainnya bersama anak-anaknya yang lain di tahun-tahun mendatang," catat para penulis laporan tersebut.

Kasus ini menegaskan bahwa batas antara emosi dan kesehatan jantung jauh lebih tipis dari yang selama ini dibayangkan, dan kebahagiaan yang meluap juga bisa meninggalkan jejak fisik yang membahayakan.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online